Talk about finance, investing and everything in between

Tag archive

investasi

Investasi Saham Langsung vs Reksadana Saham

in Others by

Seperti banyak tulisan di blog saya, ide tulisan ini muncul ketika saya sedang mandi, apakah investasi di reksadana saham lebih menguntungkan dari investasi saham langsung?

Satu hal yang pasti jika berinvestasi di reksadana saham kita tidak perlu repot untuk melakukan penelitian terkait perusahaan yang mau kita invest, paling kita cuma meneliti reksadana mana saja yang layak lalu kita terus membeli reksadana tersebut. Sedangkan kalo investasi saham langsung kita harus meneliti perusahaan tersebut dari berbagai aspek, keuangan, operasional, manajemen dan lain-lain, tentu itu makan waktu dan tenaga. Reksadana saham juga pasti dikelola oleh orang-orang terbaik dibidangnya. Tapi balik lagi, yang mengelola reksadana saham adalah manusia, namanya manusia pasti punya kesalahan dan kekurangan juga.

Salah satu tujuan utama investasi adalah return. Saya lalu melihat return 5 tahun terakhir dari reksadana saham di bareksa.com.  Ada 81 reksadana saham yang sudah berumur 5 tahun atau lebih di bareksa, dari 81 reksadana ini hanya 5 yang memiliki return diatas 75% selama 5 tahun terakhir atau rata-rata 15% per tahun. Sebagai catatan IHSG dan LQ45 dalam periode yang sama memberikan return sebesar 47% dan 46%.

Return reksadana saham 5 tahun terakhir

Lalu saya berfikir, seberapa sulitkah jika kita investasi saham secara langsung untuk meraih return 15% per tahun atau 75% selama 5 tahun. Bagaimana jika kita membeli 10 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar?

Saya lalu melihat apa saja 10 saham dengan kapitalisasi terbesar pada tahun 2013 (2013 sampai 2017 = 5 tahun). Saya menemukan data tersebut di pusatis. Lalu saya menghitung capital gain dari ke-10 saham tersebut selama periode 2013-2017 dan capital gain + dividend. Hasilnya ada dibawah. Dari hasil hitungan saya, tidak terlalu sulit mendapatkan return diatas 75% selama 5 tahun, cukup dengan kita investasi saja di 10 perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar. 10 perusahaan ini juga bukan perusahaan kemaren sore, mereka sudah punya reputasi yang baik dan beroperasi di Indonesia puluhan tahun, produk-produk mereka juga kebanyakan kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari (kecuali mungkin PGAS). Tanpa perlu deep research kita sudah mendapat return yang baik, jadi harusnya jika kita melakukan deep research harusnya dapat return lebih baik lagi (#TalkToMyself :hammer:). Saya juga berharap, index fund atau ETF bisa semakin berkembang di Indonesia, sehingga kita bisa punya pilihan lain untuk berinvestasi.

Investasi di 10 perusahaan terbesar

Catatan: Harga 2013 adalah harga awal tahun 2013 dan 2017 adalah harga akhir tahun 2017. Adjusted berarti ada adjustment stock split, lembar saham diasumsikan kita punya Rp 100 juta dan kita bagi 10, artinya kita membeli tiap-tiap saham sebesar Rp 10 juta. Return nominal adalah berapa return yang didapatkan dari invest sebesar Rp 10 juta, total DPS dihitung selama periode 2013-2017. Dividend adalah total DPS dikalikan dengan lembar saham.

Kenapa Kita Berinvestasi?

in Others by

quote-our-stay-put-behavior-reflects-our-view-that-the-stock-market-serves-as-a-relocation-center-at-warren-buffett-214534Ada berbagai macam alasan kenapa orang melakukan sesuatu, entah itu baik atau buruk. Alasan itu bisa juga menjadi tujuan dari hal yang kita perjuangkan. Tanpa tujuan dan alasan kita bakal kehilangan arah, sama seperti kapal di lautan, normalnya kapal mempunyai rute dari A ke B, jika kapal ga punya tujuan dia hanya mengapung di lautan.

Sama dengan investasi, tujuan kita harus jelas, apa yang ingin dicapai dengan kita investasi? Apakah untuk masa setelah pensiun? Untuk menyekolahkan anak? atau tujuan lain? Untuk kebanyakan orang termasuk saya, saya berinvestasi, khususnya di saham atau reksadana karena saya punya uang lebih yang belum terpakai saat ini dan untuk nilai uangnya tidak turun (karena inflasi) lebih baik saya investasikan.

Slide11

Kenapa alasan atau tujuan dalam investasi itu penting? Karena dalam jangka pendek, ga ada yang tau harga saham atau nilai investasi itu akan naik atau turun, tapi dalam jangka panjang tentu nilai investasi akan naik (jika investasinya benar). Balik lagi ke perumpamaan kapal di lautan, kita berangkat dari A ke B, selama perjalanan ga ada yang tau kondisi cuaca dan ombak selama perjalanan bakal bagaimana, tapi jika kita tekun, hati-hati dan punya tujuan untuk mencapai B maka kita akan sampai pada akhirnya.

Saham coca cola sebagai contoh, pada saat IPO tahun 1919 harganya sekitar 40 dollar, setahun kemudian tahun 1920 harganya turun sampai sekitar 19 dollar, coba kita posisikan kita membeli pada saat IPO. Apakah kita ga takut ketika harta kita berkurang setengah? Lalu coba jika pemegang saham coca cola kita kasih tau dalam beberapa tahun kedepan akan ada great depression terus perang dunia kedua, 90% pasti akan menjual saham coca cola. Pada saat itu juga kita ga tau kalo coca-cola bakal mendunia dan menjadi global brand. Tapi dari 1919 sampe 1931 saja return saham coca-cola sudah 1000% lebih dan dari 1919 sampe 2012 satu saham coca-cola seharga 40 dollar akan bernilai 9,8 juta dollar di 2012.

ASTRA_International

Contoh lain pada saat krisis keuangan global, Indonesia juga kena dampaknya, misal pada saat itu kita tau kalo Astra International (ASII) adalah perusahaan yang bagus, berhasil melewati krisis 1998 dan pada tahun 2007 kondisi keuangannya cukup baik. Kita lalu membeli saham ASII di akhir 2007 di harga 2700, setahun kemudian harganya turun 78% sampai ke terendahnya 940. Pada saat itu krisis keuangan global, kondisi ekonomi tidak jelas, tentu kita akan panik, dan menjual saham ASII. Tapi jika kita sabar, fokus dan tujuan investasi kita jelas untuk jangka panjang maka kita tidak menjual. Jika kita melihat kondisi ASII sendiri pada 2008 net incomenya masih naik dari Rp 6.5 T di 2007 menjadi Rp 9.1 T di 2008.

 

Net income ASII
Net income ASII

Sampe November 2015 kita sudah mendapat return sekitar 120% (asumsi beli di 2007 pada harga 2700 dan tidak membeli lagi). Hampir sama dengan post saya dalam Investasi Tanpa Keberuntungan. Bahkan jika kita masuk pada saat terburuk kita masih mampu melipatgandakan kekayaan kita, apalagi dengan metode Dollar Cost Averaging. Tapi memang kebanyakan kita tidak seperti itu, ada satu penelitian, kebanyakan orang masuk ke reksadana pada saat performnya bagus dan saat titik puncak (market peak), tidak lama kemudian harganya turun lalu kita akan menjual pada saat harga rendah, dan terus seperti itu. (Baca: Disposition Effect: Sell Winners, Hold Losers). Belum lagi dengan jaman internet, kita bisa dapet segala macam informasi, entah benar atau salah 24 jam sehari 7 hari seminggu, non stop. Dengan kata lain noise dimana-mana. Menurut suatu penelitian (di AS) average holding period investor saham turun drastis dari sekitar 7 tahun di 1940 menjadi hanya 5 hari di 2010. Tapi seperti kata Warren Buffett “Our stay-put behavior reflects our view that the stock market serves as a relocation center at which money is moved from the active to the patient”

quote-understanding-both-the-power-of-compound-interest-and-the-difficulty-of-getting-it-is-charlie-munger-102-43-15

Ga ada yang bilang ini mudah dan memang ga ada jalan yang mudah untuk berhasil. Buktinya hanya ada satu Warren Buffett. Tapi dengan fokus, sabar, disiplin dan punya tujuan yang jelas, insya allah setidaknya kita bisa jadi lebih baik dari sekarang, ga hanya di investasi tapi juga dalam hidup. :peace

Trendline Sebagai Basis Investasi Jangka Panjang Dengan Studi Kasus

in Technical Analysis by

Halaman 1: Penjelasan

Halaman 2: Case Study

Biasanya analisa teknikal lebih banyak digunakan untuk trading atau dalam jangka waktu yang pendek. Apakah analisa teknikal juga bisa digunakan untuk long-term investing? Kali ini saya ingin sharing apakah sebuah trendline yang merupakan salah satu metode dalam analisa teknikal bisa digunakan untuk investasi jangka panjang?

Satu hal yang menjadi pertanyaan ketika akan berinvestasi adalah, kapan saatnya untuk membeli? dan kapan saatnya untuk menjual?

Dengan trendline yang digambar dalam chart jangka panjang (monthly/weekly) kita bisa tau support dan resistance suatu saham, dan titik support-resistance itu bisa jadi waktu dimana saatnya membeli atau menjual.

Triknya adalah mencari saham yang dalam uptrend jangka panjang, lalu gambar garis support dan beli saat menyentuh garis support tersebut.

Di bawah ini ada beberapa contoh.

UNTR
UNTR

Dalam chart monthly, trendline support terbentuk sejak akhir 2009, titik tersentuh pada 2013 dan terakhir pada Desember 2014.

HMSP
HMSP

Dalam chart weekly, trendline support terbentuk dari awal 2010, terakhir tersentuh pada awal 2015 ini.

SSIA
SSIA

Dalam chart monthly, trendline support terbentuk dari 2011, terakhir tersentuh pada Oktober 2014.

ASRI
ASRI

Dalam chart weekly, trendline support terbentuk dari awal 2009, terakhir tersentuh pada akhir 2014.

Diatas beberapa contoh saham yang selalu rebound saat menyentuh trendline support. Trendline support itu sendiri bisa terdiri dari beberapa support. Seperti contoh dibawah ini.

BBRI
BBRI

Garis warna hijau adalah support yang terbentuk dari 2009, warna merah support yang terbentuk dari pertengahan 2013 dan warna putih support dari akhir 2014. Titik membeli jadi ada 3, saat menyentuh warna putih, merah atau hijau. Jika seperti ini disesuaikan dengan kondisi makro dan perusahaan pada saat menyentuh support, apakah kinerja perusahan memburuk? perusahan mendapat isu negatif? atau kondisi makro Indonesia memburuk? Jika iya, lebih baik menunggu di support berikutnya.

Contoh lain.

PGAS
PGAS

Garis warna hijau adalah support yang terbentuk dari 2004, warna merah support yang terbentuk dari akhir 2008 dan warna putih support dari 2011. Ketika mendekati garis putih PGAS sedang diterpa isu negatif dan kinerja keuangan yang melambat. Jadi lebih baik menungu PGAS di garis merah.

CTRA
CTRA

Garis warna hijau adalah support yang terbentuk dari akhir 2008, warna merah support yang terbentuk dari pertengahan 2011 dan warna putih support dari akhir 2013.

Tapi tentu saja metode ini bukan sebuah “holy grail”, ada beberapa saham yang garis trendline support-nya tertembus. Contohnya seperti ADMF.

ADMF
ADMF

Trendline terbentuk sejak awal 2009, akhir 2014 trendline ditembus.

Itu dulu share tentang garis trendline dalam uptrend sebagai salah satu metode dalam investasi jangka panjang. Silahkan share pendapat dan share ke media sosial teman-teman. 🙂

Link untuk belajar tentang trendline.

Stockcharts – Trendline

Page 2 berisi beberapa case study chart beberapa saham.

Jika ingin request chart untuk case study bisa mention via Stockbit atau Twitter saya.

Go to Top