Investasi Tanpa Keberuntungan

in Others by

51a9fcc948c53_51a9fcc961209

Namanya boleh Untung, tapi Untung ini orang paling tidak beruntung ketika berinvestasi. Untung mulai memperoleh penghasilan sendiri di tahun 1984 saat umurnya 25 tahun. Untung mencoba untuk menabung penghasilannya setiap tahun. Dari tahun 1984 sampai tahun 1999 Untung mampu menabung sebanyak 20 juta rupiah setiap tahunnya. Tahun 2000 sampai tahun 2009 Untung mampu menabung sebanyak 40 juta rupiah setiap tahunnya dan dari tahun 2010 sampe Untung pensiun di 2014 mampu menabung sebanyak 60 juta setiap tahunnya. Jika dijumlah, keseluruhan tabungan Untung adalah 1 milyar 20 juta rupiah.

Screen Shot 2015-08-18 at 1.57.36 PM

Tahun 1997 Untung mulai mencoba untuk memasukan tabungannya ke pasar modal, tapi sayangnya pengetahuan Untung terhadap pasar modal sangat terbatas dan dia hanya berani masuk pada saat harga saham sudah naik banyak. Anggap saja ada produk reksadana IHSG atau index fund. Untung membeli reksadana pertamanya di bulan Juli 1997 dengan semua uang yang telah ditabung sejak 1984, pas sebelum IHSG drop sebanyak 66% pada saat krismon. Benar-benar tidak beruntung, tidak ingin menjual pada saat yang salah juga, akhirnya Untung tidak menjual sedikitpun reksadananya.

Untung lalu tidak nyaman untuk masuk lagi, meskipun tahun 1999, IHSG kembali ke titik sebelum krismon. Setelah 10 tahun berlalu dari 1997, Untung melihat IHSG sudah naik banyak, dari sekitar 300an-700an menjadi 2800. Akhirnya Untung memutuskan untuk membeli reksadana IHSG yang sama seperti di tahun 1997 pada bulan Desember 2007. Emang namanya sial, setahun kemudian IHSG malah turun 62%. Untung masih tidak menjual sedikitpun dari reksadananya. Lalu akhirnya, setahun sebelum Untung pensiun di bulan Mei 2013, dia membeli lagi reksadana IHSG yang sama karena IHSG hampir naik 2x lipat dari terakhir kali dia membeli. Beberapa bulan setelahnya IHSG turun 28% karena isu tapering dari The Fed.

Untung selalu membeli reksadana IHSG di harga puncak sesaat sebelum mengalami penurunan yang ekstrem. Berikut daftar kapan Untung membeli, diharga berapa dan penurunan setelah membeli.

Screen Shot 2015-08-18 at 1.59.13 PM

Screen Shot 2015-08-18 at 2.01.51 PM

Untungnya, si Untung tidak pernah menjual sedikitpun dari reksadananya, dan pada tanggal 17 Agustus 2015 Untung melihat rekening reksadananya dan dia terkejut, saldo pada saat itu adalah Rp 2,586,557,845 ditambah 60 juta rupiah uang tabungannya yang belum dimasukan. Ternyata meskipun Untung selalu membeli pada saat terburuk, pada akhirnya Untung masih bisa melipat gandakan uangnya dibanding dengan hanya ditabung.

albert_einstein-compound-interest-680x306

Kesimpulannya, investasi itu harus sesederhana mungkin, bahkan tanpa kemampuan valuasi atau “market timing” kita mampu meraih hasil yang baik, karena dengan jangka waktu yang panjang, bahkan keputusan yang buruk dan kesialan bisa dihilangkan dengan “compound interest”. Jadi coba bayangkan, misalnya Untung memakai strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dengan membeli setiap akhir/awal tahun.

Screen Shot 2015-08-18 at 2.11.38 PM

Dengan metode DCA Untung bisa mendapat 6.2 milyar rupiah. Atau bagaimana jika Untung tidak membeli reksadana IHSG tapi saham yang baik seperti Unilever? Tentu hasil yang didapat akan lebih baik lagi. Jadi meskipun kita bernasib sial dan punya pengetahuan terbatas kita masih bisa meraih hasil investasi yang baik dengan kedisiplinan, tujuan jangka panjang dan compound interest.

quote-you-don-t-need-to-be-a-rocket-scientist-investing-is-not-a-game-where-the-guy-with-the-warren-buffett-53-15-70

 

Sumber: What if You Only Invested at Market Peaks? – A Wealth of Common Sense

Facebook Comments

please insert your comment