Talk about finance, investing and everything in between

Category archive

Stock Pick

Surya Esa Perkasa (ESSA): Promising Future Ahead?

in Stock Pick by

Berapa bulan terakhir, Surya Esa Perkasa ($ESSA) cukup ramai diperbincangkan di Stockbit. Salah satu topik pembicaraan dari ESSA adalah terkait akan beroperasinya pabrik ammonia di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah yang akan berproduksi sekitar bulan Maret/April tahun ini.

Sebelum pabrik ammonia ini beroperasi lini usaha ESSA adalah memproduksi dan menjual LPG dan produk-produk kimia. ESSA company profile.

ESSA’s Financials

Before PAU, saya tidak melihat ada yang menarik terkait ESSA, selain dari GPM dan NPM mereka yang cukup baik (meskipun turun sejak tahun 2015).

ESSA Revenue & Net Income
ESSA GPM & NPM

Sebagian kebutuhan dana untuk membangun pabrik PAU adalah menggunakan utang dari IFC, karenanya utang ESSA menjadi cukup tinggi, hal ini mempengaruhi Interest Coverage Ratio (ICR) ESSA.

ESSA total debt
ESSA ICR

Reasons to buy ESSA

  • Owner & Management punya track record yang baik.
  • Jika harga ammonia terus berada di harga saat ini (+-$300/ton) atau naik, maka ESSA akan membukukan laba bersih yang tinggi.
  • Valuasi yang masih cukup menarik (valuasi lebih lanjut di bawah)

Key Risks in ESSA

  • Suplai gas adalah hal paling penting untuk memproduksi ammonia, jika suplai gas terganggu maka produksi juga akan terganggu, extreme case jika tidak ada gas maka tidak bisa beroperasi.
  • Harga jual gas yang menjadi bahan baku dan harga jual ammonia yang fluktuatif.
  • Concentrated Risk, saat ini  hanya ada satu pelanggan dan penyuplai bahan baku untuk operasional ESSA saat ini (LPG & produk kima) yaitu PT. Pertamina. Setelah PAU beroperasi, penyuplai bahan baku untuk PAU juga hanya satu entitas dan menurut berita, PAU hanya menjual ammonia hasil produksi kepada satu entitas juga.
  • Kenaikan suku bunga, dengan utang yang cukup tinggi yang digunakan untuk membangun PAU, resiko dari kenaikan suku bunga menjadi salah satu hal penting yang dapat mempengaruhi laba bersih ESSA. Menurut LK Q3 2017, setiap 50 basis point kenaikan/penurunan suku bunga akan menaikan/menurukan laba ESSA sebesar 1.29 juta USD.

ESSA’s Valuation

Untuk menghitung valuasi dari ESSA setelah pabrik ammonia beroperasi saya menggunakan beberapa asumsi.

  1. Dari beberapa sumber disebutkan kapasitas pabrik adalah 700.000 ton per tahun, dengan asumsi baru bisa berproduksi pada awal April 2018 maka target produksi tahun 2018 sebesar 525.000 ton. Untuk 2019 jumlah produksi full 700.000 ton.
  2. Jumlah penjualan ammonia sama dengan jumlah produksi ammonia.
  3. Pendapatan dan laba bersih selain dari PAU naik 10% setiap tahunnya.
  4. Pendapatan dan laba bersih yang dikonsolidasikan ke ESSA adalah 60% dari pendapatan dan laba bersih PAU.
  5. Asumsi harga penjualan ammonia adalah Rp 4.302.506 per ton, harga ini didapat dari rata-rata harga penjualan ammonia dari PT Pupuk Sriwijaya dan PT Pupuk Kaltim pada tahun 2016.

Hasil dari valuasi saya, fair value untuk ESSA adalah Rp 487, harga ini menawarkan potensi return yang cukup baik dari harga sekarang Rp 334 yaitu sebesar 46%, tapi melihat key risks dari ESSA maka saya memberikan diskon 50% dari fair value ESSA, sehingga nilainya menjadi Rp 243. Karena itu saya tidak akan menambah kepemilikan di ESSA kecuali harga sahamnya turun ke kisaran Rp 243 dan kondisi fundamental perusahaan minimum sesuai dengan asumsi saya diatas. Meskipun di harga Rp 334, ESSA sudah menawarkan margin of safety yang cukup baik.

Disclaimer: Penulis memiliki saham ESSA di harga Rp 238.

Related Analysis on ESSA

ESSA: Massive growth from ammonia business – idxvalue

ESSA Company Page on Stockbit

Analisa perusahaan saya yang lain

Waskita Karya – The Integrated Construction Company

Indah Kiat Pulp & Paper – Promising or Not?

Adira Dinamika Multi Finance: Dividend Play

6 Reasons To Buy Ultrajaya (ULTJ)

Jasa Marga (JSMR): Bargain Stock

Agung Podomoro Land (APLN): Good or Bad?

Asuransi Dayin Mitra (ASDM): Continuously Growing Since 2008

Soechi Lines (SOCI): Calm Ocean Ahead

Matahari Department Store (LPPF): The Best Company Listed in IDX

Sarana Menara Nusantara (TOWR): Reaching For The Sky

Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN): From Retiree to Millennials

Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN): From Retiree to Millennials

in Stock Pick by

Ada 3 bank di kategori BUKU 3 yang menarik buat saya pribadi, Bank Bukopin (BBKP), Bank Permata (BNLI) dan Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN).

Dari ketiga bank ini, BTPN memiliki NIM paling tinggi di kategori ini (per 1H 2017 NIM 11.8%) dan mungkin yang tertinggi diantara seluruh bank yang terdaftar. Di sisi lain CoF BTPN juga tinggi, menurut research dari Danareksa sekitar 6.1%. Tapi jika dihitung selisihnya masih sangat baik dibandingkan bank lain. Gross NPL juga salah satu yang terendah (0.89% pada 1H2017) karena struktur kredit yang 61% diberikan kepada pensiunan.

BTPN berdiri pada tahun 1958 dengan nama Bank Pegawai Pensiunan Militer (Bapemil). Tahun 1986, Bapemil berubah nama menjadi BTPN. Pada tahun 2008, TPG Nusantara mengakuisisi saham mayoritas BTPN sebesar 71.6% melalui proses IPO. Pada tahun 2013, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) mengakuisisi 24.3% saham BTPN dari TPG Nusantara. Tahun 2014, SMBC menambah kepemilikan BTPN dan menjadi pemegang saham utama dengan 40% saham. Tahun 2015, BTPN secara resmi meluncurkan program BTPN WOW dan pada tahun 2016 BTPN meluncurkan program Jenius.

 

Salah satu aspek yang membuat saya tertarik kepada BTPN adalah dari sisi comparative valuation BTPN relatif murah, dengan PBV 0.84 dan ROE 10.31%.

PBV BTPN vs peer
ROE BTPN vs peer

BTPN adalah salah satu market leader di digital bank dengan program Jenius dan BTPN WOW. Per 9M2017, BTPN Wow! memiliki 4.3 juta pengguna (69% adalah pengguna aktif) dan 200,000 agen. Sementara itu, Jenius memiliki 359,000 pengguna terdaftar, jumlah ini masih jauh dari target 2017 yaitu 1 juta pengguna terdaftar. Sumber: Value in Indonesia’s Leading Digital Bank – BTPN

Dari sisi manajemen saya menilai management BTPN sangat baik. Direktur Utama BTPN Jerry Ng menjabat sejak Juli 2008, selama periode itu asset BTPN naik dari hanya sekitar Rp 10 T menjadi hampir menembus Rp 100 T.

Total asset BTPN 2008-2017

Di periode yang sama juga, jumlah pendapatan BTPN naik dari sekitar Rp 2.5 T menjadi Rp 14 T.

Revenue BTPN 2008-2017

 

Tapi BTPN juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan BTPN adalah di bidang penyaluran kreditnya, untuk segmen pensiunan sendiri sudah cukup saturated, sedangkan di segmen mikro dan SME persaingannya sangat ketat. Di sisi lain pendanaan mereka juga kurang bagus dengan LDR 96%.

Operational cost mereka juga cukup tinggi diantara bank BUKU 3 lain, sekitar 40% dari pendapatan. Jika dibandingkan dengan top 3 bank di Indonesia, Net Profit Margin (NPM) BTPN masih tertinggal.

NPM BTPN vs top 3 bank

Meskipun begitu jika dibandingkan dengan beberapa bank BUKU 3 lainnya, NPM BTPN masih bisa dibilang cukup baik.

NPM BTPN vs peer

Mengacu pada research dari Danareksa pada bulan November, pada kuarter ke-4 ini BTPN sedang restrukturisasi untuk mengurangi biaya ini yang berakibat akan ada one off lost sekitar Rp 700 Milyar.

Dari sisi investor, untuk memiliki saham BTPN juga cukup sulit karena tidak likuidnya perdagangan saham BTPN walaupun kepemilikan publik BTPN mencapai 28.43%.

Overall saya menilai untuk saat ini BTPN menarik. Karena mereka punya competitive advantage di segmen pensiunan dan digital banking. Untuk kekurangan BTPN sendiri, dari sisi biaya mereka sudah mulai memperbaiki sedangkan dari sisi kredit dan pendanaan semoga dengan adanya program digital banking mereka bisa menemukan cara memperoleh pendanaan dan segmen kredit lain.

Untuk dari valuasinya, berikut hasil perhitungan saya menggunakan beberapa metode:

Valuasi BTPN

Jika di rata-rata, valuasi wajar BTPN ada di sekitar Rp 3450, valuasi ini cukup menarik dengan harga BTPN saat ini di Rp 2540.

Beberapa artikel tambahan terkait BTPN:

Value in Indonesia’s Leading Digital Bank – BTPN

BTPN Research Danareksa November 2017

 

Analisa perusahaan saya yang lain: 

Waskita Karya – The Integrated Construction Company

Indah Kiat Pulp & Paper – Promising or Not?

Adira Dinamika Multi Finance: Dividend Play

6 Reasons To Buy Ultrajaya (ULTJ)

Jasa Marga (JSMR): Bargain Stock

Agung Podomoro Land (APLN): Good or Bad?

Asuransi Dayin Mitra (ASDM): Continuously Growing Since 2008

Soechi Lines (SOCI): Calm Ocean Ahead

Matahari Department Store (LPPF): The Best Company Listed in IDX

Sarana Menara Nusantara (TOWR): Reaching For The Sky

Sarana Menara Nusantara (TOWR): Reaching For The Sky

in Stock Pick by

Sudah cukup lama saya tertarik dengan sektor menara telekomunikasi, selain karena saat ini kebutuhan akan menara telekomunikasi sangat penting, margin keuntungannya juga relatif tinggi. Jika berbicara perusahaan menara telekomunikasi maka Tower Bersama (TBIG) mungkin yang akan pertama muncul dalam pikiran. Tapi, sampai beberapa waktu yang lalu saya masih ragu masuk ke dalam sektor karena DER yang relatif tinggi dan valuasi yang kurang menarik. Lalu saya mencoba membandingkan beberapa perusahaan dalam sektor ini dan mencapai kesimpulan bahwa Sarana Menara Nusantara (TOWR) adalah perusahaan terbaik dalam sektor ini. Apa saja alasannya?

  1. Sejak 2015, Gross Profit Margin (GPM) naik menjadi 87% dari sekitar 67% di tahun sebelumnya dan otomatis mempengaruhi Net Profit Margin (NPM) juga. Sejak 2015, NPM TOWR selalu diatas 60%. Kenaikan ini karena pendapatan yang naik tetapi beban-beban yang cenderung stagnan bahkan turun.

    Revenue and Expense
  2. Jumlah hutang bank yang cenderung stabil sedangkan jumlah ekuitas terus naik sehingga DER terus turun dan saat ini TOWR adalah perusahaan dengan DER terendah di sektornya.

    DER terendah di sektornya
  3. TOWR pernah menjadi perusahaan termahal dalam sektor ini dilihat dari PER dan PBV tapi saat ini menjadi yang termurah (PER, nomor 2 dilihat dari PBV).
    PER TOWR vs lain

    PBV TOWR vs lain
  4. Dimiliki oleh keluarga Hartono (Djarum), selain terkenal dengan management yang cukup baik juga memiliki resources yang banyak. Pada sektor ini pertumbuhan anorganik via akuisisi wajib dilakukan dan saat ini TOWR memiliki competitive advantage untuk melakukan akuisisi tower.
  5. Pendapatan per menara yang paling tinggi diantara 3 besar penyedia menara yang terdaftar di bursa.

Tapi ada juga beberapa hal yang membuat TOWR menjadi kurang menarik.

  1. Perusahaan tidak pernah membagi dividend, ada rumor 2017 perusahaan akan mulai membagi dividend, ini bisa menjadi kunci membuka value TOWR.
  2. Meskipun jumlah saham beredar yang cukup banyak tetapi transaksi harian TOWR kecil.

Bagaimana dengan valuasi TOWR?

Valuasi TOWR

Valuasi TOWR cukup menarik walaupun tidak fenomenal, pada valuasi PER stockbit saya menggunakan average PER 1 tahun saja karena average PER 3 tahun yang terlalu besar.

Artikel terkait TOWR:

DBS Research

BCA Sekuritas

 

Analisa perusahaan saya yang lain: 

Waskita Karya – The Integrated Construction Company

Indah Kiat Pulp & Paper – Promising or Not?

Adira Dinamika Multi Finance: Dividend Play

6 Reasons To Buy Ultrajaya (ULTJ)

Jasa Marga (JSMR): Bargain Stock

Agung Podomoro Land (APLN): Good or Bad?

Asuransi Dayin Mitra (ASDM): Continuously Growing Since 2008

Soechi Lines (SOCI): Calm Ocean Ahead

Matahari Department Store (LPPF): The Best Company Listed in IDX

Matahari Department Store (LPPF): The Best Company Listed in IDX

in Stock Pick by

Awalnya saya lagi membaca sebuah buku berjudul “Valuation: Measuring and Managing The Value of Companies“, lalu ada chapter yang membahas Return on Invested Capital (ROIC). Karena saya penasaran lalu saya membuka Stockbit screener untuk mencari tahu saham apa yang punya ROIC terbesar. Hasilnya, ada 3 yang menarik perhatian, Matahari Department Store (LPPF), Multi Bintang Indonesia (MLBI) dan Unilever Indonesia (UNVR). Tebak berapa ROIC LPPF? 164.4%, beda dari 2 perusahaan dengan ROIC tertinggi, MLBI dan UNVR yang merupakan perusahaan yang memproduksi produknya sendiri, LPPF ini hanya punya toko. Setelah saya lihat-lihat, ternyata saat ini LPPF cukup potensial untuk masuk daftar belanjaan. Berikut akan saya coba bagikan beberapa hal terkait LPPF yang membuat saya tertarik.

The Good

  1. ROIC yang sangat tinggi: 164.4%. Sebelumnya yang belum tau ROIC adalah rasio untuk mengukur seberapa efisien perusahaan menggunakan modal yang dimiliki untuk digunakan pada investasi yang menguntungkan. Ada berbagai cara untuk menghitung ROIC, tapi yang digunakan Stockbit adalah NOPAT/total debt + total equity (total capital)Kok bisa sih ROIC LPPF tinggi banget? ROIC tinggi bisa karena 3 hal, NOPAT yang tinggi atau total capital yang rendah atau kombinasi keduanya. Dalam kasus LPPF adalah kombinasi keduanya, net income LPPF adalah yang terbesar di sektor retail dan juga salah satu dengan capital terendah. Sebagai perbandingan adalah Ace Hardware (ACES), untuk ACES menghasilkan 671 M mereka perlu sekitar capital sekitar 2.9 T, sedangkan LPPF hanya perlu 1.47 T untuk menghasilkan 2 T.

    Komparasi Retail (1) – Book Value mewakili Equity
  2. Kok bisa sih LPPF perlu capital yang sangat rendah tapi bisa memberikan hasil yang tinggi? Jawabannya ada 2, pertama, LPPF hanya modal “rak, lemari dan gantungan baju”, untuk tempat seluruhnya adalah sewa dan saya pernah baca anchor tenant seperti LPPF atau Matahari Putra Prima/Hypermart (MPPA) dan kawan-kawan biasanya mendapat sewa yang lebih murah. Ditambah juga grup Lippo yang juga memiliki dan mengoperasikan beberapa mall di Indonesia, ada kemungkinan LPPF mendapat perlakuan yang lebih favorable dari tenant lain. Kedua, LPPF hampir tidak punya inventory, sekitar 66% produk yang dijual di LPPF dilakukan dengan sistem consigment (konsinyasi), yang artinya pihak kedua memberikan komisi yang dipotong dari harga jual produk mereka. Karena sistem consigment ini jadi LPPF tidak perlu memproduksi barang untuk mengisi tokonya, alhasil mereka tidak perlu capital yang besar untuk stok barang. Dalam soal inventori barang bisa kita bandingkan dengan ACES sebagai perusahaan retail terbaik kedua, ACES lebih dari 90% penjualannya adalah dari produk mereka sendiri atau direct purchasing (membeli putus produk dari pihak kedua).  Sebagai perbandingan, revenue TTM ACES adalah 4.8 T dan revenue TTM LPPF adalah 9.7 T, inventory ACES adalah 1.6 T atau 33% dari revenue, sedangkan inventory LPPF adalah 940 M, atau 10% dari revenue. Melihat dari LK LPPF, untuk consigment ini mereka meminta sekitar 30% dari harga jual produk consigment.

    Consignment LPPF
  3. Pertumbuhannya yang bagus, pada 2010 revenue LPPF adalah 4,092 M dan pada 2015 adalah 9,007 M yang artinya LPPF tumbuh 2x lipat sejak 2010 atau CAGR sebesar 17% dalam 5 tahun terakhir. Pertumbuhan laba juga bagus, pada 2010, laba bersih LPPF adalah 625 M, dan 2015 laba bersihnya adalah 1,781 M atau tumbuh hampir 3x lipat dalam 5 tahun (CAGR 23%).
  4. Margin yang baik, Gross Profit Margin (GPM) dan Operating Profit Margin (OPM) yang terjaga di atas 60% dan 26% setiap tahunnya, serta penghapusan utang bank sehingga LPPF tidak ada beban utang lagi.
  5. Saat ini, LPPF relatif murah jika dilihat dari Price Earning Ratio (PER) karena PER LPPF saat ini berada pada level -2 SD selama 3 tahun terakhir.

    PER
  6. Matahari Mall, LPPF punya kepemilikan efektif 10% dan mungkin akan bertambah, ini masih dalam tahap pembangunan, jadi masih belum bisa dirasakan hasilnya, tetapi melihat kemampuan dan sinergi grup Lippo dalam membangun usaha besar kemungkinan Matahari Mall ini akan berhasil.
  7. Ada 3 grup department store besar di Indonesia yang terdaftar di bursa, Matahari (LPPF), Ramayana (RALS) dan Mitra Adiperkasa – Sogo, Debenhams, Galeries Lafayette, Lotus, Seibu (MAPI). Dari ketiga ini, LPPF mempunyai margin operasi yang paling baik, per 2016 margin operasi LPPF adalah 26.8%, RALS dan MAPI (khusus department store) 17.58% dan 0.6%.
  8. PER LPPF relatif rendah (no 3, exclude MPPA) dari 7 retailer dengan penjualan terbesar + RALS.

    PER Retailer
  9. Perusahaan retail terdaftar di bursa paling menguntungkan di Indonesia. Retailer dengan penjualan paling tinggi adalah Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) dengan penjualan per 2016 yaitu Rp 56 T, tetapi net income hanya Rp 602 M. Sedangkan LPPF, penjualannya per 2016 adalah Rp 9.7 T atau tertinggi ke-7 diantara perusahaan retail, tetapi net incomenya adalah yang tertinggi dengan Rp 2 T, no 2? AMRT. :p

    Net income retailer

Special Attention List

Selain 5 hal diatas yang membuat saya tertarik, ada juga beberapa hal yang menjadi catatan.

  1. Price to Book Value (PBV) yang sangat tinggi yaitu 30x dan PER yang tidak tergolong rendah jika dibandingkan dengan seluruh perusahaan yang ada di bursa. Sebanding dengan ROIC yang tinggi, drawback dari memiliki book value yang rendah adalah PBV yang tinggi. Tapi, jika kita membandingkan 3 perusahaan dengan ROIC tertinggi yang saya sebutkan diatas, LPPF, MLBI dan UNVR, PBV dan PER LPPF adalah yang terendah. Jadi bisa dikatakan diantara perusahaan terbaik, LPPF adalah yang paling murah.

    ROIC PER PBV Top 3
  2. Dari 2010, penjualan LPPF pada kuarter 3 setiap tahunnya adalah yang terbaik, tapi pada 2016 kemaren, kuarter 3 bukan kuarter terbaik lagi karena kuarter 2 jauh lebih baik dan hal ini mungkin penyebab harga saham LPPF turun sampai 26% sejak akhir Oktober (saat LK Q3 2016 keluar). Sebenarnya hal ini harusnya hal yang biasa saja, karena seperti yang kita tau, bulan Ramadhan menjadi saat dimana konsumsi khususnya pakaian mencapai puncak setiap tahunnya dan dari 2010 lebaran selalu jatuh dalam kuarter 3. Pada 2016 sendiri, lebaran jatuh pada tanggal 6 Juli, yang artinya belanja baju baru dilakukan sebagian besar pada bulan Juni yang masuk kuarter 2.

Valuation

Lalu berapakah valuasi pantas LPPF? Dengan kondisi keuangan sampai Q3 2016 dan harga saat ini di 15,325, LPPF masuk kategori saham yang cukup undervalued.

Valuasi LPPF

The Lippo’s Play

Tapi seperti banyak saham perusahaan yang bagus dan undervalued, percuma kalo tidak ada katalisnya. Nah menurut saya hal ini bisa jadi katalis besar LPPF (ini murni pendapat saya, lebih kearah berandai-andai). Minggu kemaren keluar berita bahwa Multipolar (MLPL) yang merupakan bagian dari grup Lippo ingin menjual kepemilikannya di MPPA. Katanya valuasi MPPA bisa mencapai  $ 1 Milyar, atau Rp 13.3 T, dengan kepemilikan 50%, jika MPPA dilepas semua oleh MLPL maka MLPL akan mendapat sekitar Rp 6 T. Lalu buat apa 6 T ini? Keluarga Lippo sepertinya ga perlu 6 T tunai. Tebakan saya, untuk menambah kepemilikan di LPPF. Saat ini LPPF seperti crown jewel dari grup Lippo, dengan market cap dan net income terbesar diantara grup Lippo lain yang ada di bursa. Status LPPF sebagai crown jewel juga ditunjukan dengan John Riady yang menjadi komisaris dalam LPPF, hanya LPPF dari grup Lippo lain yang ada di bursa yang masih ada keluarga Riady dalam jajaran BoC (cmiiw).

When to Buy?

Karena seringnya saya mendapat pertanyaan kapan harus beli saham X, atau kapan saham X akan naik, saya akan coba membagi seasonality chart dari Stockbit, silahkan dimanfaatkan untuk keputusan kapan beli dan menjawab pertanyaan kapan naik. Karena LPPF baru aktif pada Maret 2013 saat ditawarkan saham Asia Color Company ke publik, maka akan saya lihat dari 2013. Jika kita mengabaikan bulan Januari-Maret 2013, maka bulan Februari adalah bulan terbaik LPPF, dengan rata-rata return sebesar 17%.

Seasonality Chart LPPF

Disclaimer: Penulis memiliki saham LPPF.

Additional Reading:

LPPF – Sinarmas, NH Korindo, Mirae, Samuel

LPPF: Matahari bersinar terang – LongTerm Investment

 

Analisa perusahaan saya yang lain: 

Waskita Karya – The Integrated Construction Company

Indah Kiat Pulp & Paper – Promising or Not?

Adira Dinamika Multi Finance: Dividend Play

6 Reasons To Buy Ultrajaya (ULTJ)

Jasa Marga (JSMR): Bargain Stock

Agung Podomoro Land (APLN): Good or Bad?

Asuransi Dayin Mitra (ASDM): Continuously Growing Since 2008

Soechi Lines (SOCI): Calm Ocean Ahead

Matahari Department Store (LPPF): The Best Company Listed in IDX

Performa Stockpick 2016

in Stock Pick by

Ada 7 analisa saham yang saya buat disini Stock Pick + 1 pada Desember 2015, bagaimana performanya sampai akhir 2016 kemaren?

Secara rata-rata, stock pick saya pada 2016 kemaren menghasilkan return sebesar 14.91%

Performa Stock Pick 2016

Silahkan klik pada kode saham untuk melihat analisa detail dan update analisa di awal tahun 2017.

WSKT performa saham dan keuangannya sangat baik pada 2016, harga sahamnya sempat menyentuh titik tertinggi di

INKP tidak banyak berubah dari INKP sejak analisa saya pada Maret 2016.

ADMF mulai turunnya suku bunga BI dan membaiknya keuangan dengan laba bersih yang naik 2x lipat lebih menjadi motor penggerak harga saham ADMF.

ULTJ masih terus tumbuh jika melihat LK per kuarter ketiga 2016.

JSMR tidak banyak berubah dari JSMR sejak analisa saya pada Oktober 2016. JSMR sendiri sudah melaksanakan right issue pada bulan Desember 2016. JSMR juga masih terus mencari alternatif pendanaan untuk mencapai target 2000 km pada 2019 (berita).

APLN tidak banyak berubah dari posisi keuangan APLN sejak analisa saya pada Oktober 2016. Menurunnya harga saham juga berarti diskon ke RNAV-nya semakin tinggi.

ASDM tidak banyak berubah dari INKP sejak analisa saya pada November 2016.

SOCI naiknya harga minyak dunia masih belum memberikan sentimen positif ke SOCI dan saham-saham kapal yang berkaitan dengan pengangkutan/produksi minyak, hanya LEAD yang bergerak positif.

Semoga pilihan saham saya bisa membantu teman-teman dalam proses investasinya, semoga 2017 menjadi tahun yang baik bagi kita semua. :peace

Soechi Lines (SOCI): Calm Ocean Ahead?

in Stock Pick by

Mengingat Indonesia adalah negara maritim dan kepulauan, maka sektor shipping dan logistics cukup menarik untuk dibahas. Berdasarkan stockbit screener ada 20 perusahaan terdaftar pada sektor ini, dari ke-2o perusahaan tersebut hanya 7 perusahaan yang mencatatkan net income. Dari 7 perusahaan ini ada 3 dengan PBV dibawah 1x yaitu Soechi Lines (SOCI), Samudra Indonesia (SMDR) dan Pelayaran Nelly Dwi Putri (NELY). Dari 3 perusahaan ini hanya SOCI yang net incomenya bertumbuh dari 2013 sampai 2015. Sebenarnya selain SOCI, SMDR juga cukup menarik untuk dibahas karena jika melihat dari jumlah revenue maka SMDR ini adalah perusahaan shipping terbesar yang terdaftar di bursa, tetapi karena SMDR sahamnya lebih tidak likuid dari SOCI (SOCI juga relatif tidak likuid) maka saya coba membahas SOCI saja.

SOCI listing 2 tahun yang lalu pada akhir tahun 2014, pada saat listing harga IPO SOCI dihargai 1.6x PBV, harga yang cukup tinggi untuk sektor shipping sendiri dikarenakan sektor ini resiko kehilangan aset cukup tinggi sedangkan membutuhkan modal (utang) untuk pembelian aset (kapal) yang banyak. Timing IPOnya pun kurang bagus, pada akhir 2014, harga minyak dunia mulai terjun bebas, karena bisnis utama SOCI adalah pengangkutan minyak dan turunannya maka ada sentimen yang kurang baik. IPO dengan harga 550, sempat naik hingga 750 dan setelah itu terus turun sampai sekitar 380an di akhir 2015, sedangkan harga WTI crude oil pada akhir 2015 adalah sekitar 36 USD dan terus turun sampai dibawah 30 USD pada awal 2016. Pada Desember 2015 sampai akhir April 2016 jika kita melihat chart teknikal, SOCI sedang membangun channel uptrend. Pada saat itu mungkin investor berfikir SOCI mungkin tidak terlalu terpengaruh efek penurunan harga minyak.

Chart SOCI 1
Chart SOCI 1

Tetapi pada awal Mei 2016 pada saat LK kuarter pertama 2016 SOCI keluar, SOCI mengalami penurunan laba sampai 75% lebih sehingga labanya menjadi seperempat laba pada kuarter pertama 2015. Apa penyebabnya? Ternyata SOCI menjual kapalnya jauh dibawah harga buku, nilai bukunya masih sekitar 11 juta USD tetapi dijual hanya 7.5 juta USD.

Penjualan Aset SOCI
Penjualan Aset SOCI

Antara ini keputusan bisnis yang buruk, menjual disaat sektor ini sangat rapuh dengan harga minyak yang sudah turun sangat dalam, atau memang no better time to sell that ship. Hasilnya harga saham SOCI langsung anjlok lagi sampai menembus harga terendah pada Desember 2015 dan bottoming di 350 lalu rebound sampai ke 450. Saat ini, harga saham SOCI lagi-lagi berada di kisaran Desember 2015. Maybe, history will repeat itself and next time there will be no bad thing happen again.

Chart SOCI 2
Chart SOCI 2

Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait SOCI adalah:

  1. Penurunan harga minyak tidak terlalu berpengaruh pada pendapatan SOCI, mengapa? Karena kapal-kapal SOCI sebagian besar sudah ada kontrak dengan perusahaan-perusahaan minyak dan hanya sekitar seperempatnya yang mengikuti harga spot sewa. Kapal SOCI adalah kapal mengangkut minyak dan turunannya untuk kilang-kilang di Indonesia, terlepas dari harga minyak yang rendah, kilang-kilang ini tetap membutuhkan supply minyak yang tetap bahkan naik untuk diolah menjadi minyak jadi. Jadi sudah pasti kapal SOCI masih tetap dibutuhkan, mungkin ada penyesuaian harga tetapi tidak banyak. Didukung juga oleh industri galangan kapal SOCI yang semenjak Presiden Jokowi terpilih mendapatkan angin segar. Bandingkan dengan WINS (PBV sekarang 0.27x) yang kapalnya adalah untuk mendukung aktifitas eksplorasi minyak bukan pengangkutan, pada saat harga minyak rendah, perusahaan-perusahaan minyak menahan untuk tidak memulai eksplorasi baru atau menutup area yang kurang menguntungkan. Jika melihat chart harga WINS juga lebih berkorelasi positif dengan harga minyak dunia.
  2. Penjualan kapal dibawah harga buku adalah one time event dan wajar dilakukan karena setelahnya SOCI membeli kapal baru, semoga pada tahun depan SOCI bisa membiayai pembelian kapal tanpa harus menjual kapal dibawah harga buku.
  3. Terlepas dari rugi penjualan kapal, laba SOCI memang turun tahun ini karena penurunan pendapatan dari galangan kapal dan naiknya beban SOCI.

Lalu apakah SOCI worth to buy pada saat ini? Jawabannya: YA. Beberapa alasannya adalah:

  1. Mulai membaiknya kondisi keuangan SOCI, gross margin dan net margin SOCI pada kuarter ketiga tahun ini mulai kembali normal.

    LK SOCI
    LK SOCI
  2. Harga minyak yang mulai stabil di USD 50 dan cenderung naik, meskipun mungkin tidak terlalu berpengaruh ke pendapatan SOCI tetapi sektor shipping mendapatkan sentimen yang bagus.
  3. Track record operasional SOCI yang cukup baik, sejak IPO hanya satu kali kapal SOCI bermasalah (CMIIW) dan tidak berpengaruh ke pendapatan. Juga saat perusahaannya mendapat sentimen negatif karena turunnya laba, manajemen SOCI memilih untuk membagikan laba pertama kali sejak terdaftar di bursa.
  4. PBV SOCI yang sudah relatif rendah yaitu 0.72x.

    PBV SOCI
    PBV SOCI
  5. Jika berdasarkan bandarmology stockbit, SOCI saat ini dalam akumulasi oleh 2 broker yaitu CC dan DX, kapan akumulasi itu terjadi? Sejak 2 Mei 2016, atau pada saat LK kuarter pertama keluar.

Million Rupiah Question, bagaimana valuasi SOCI?

Jika asumsi PBV 0.97x (Mean PBV) maka valuasi SOCI ada di 522 (35% upside) yang juga kisaran harga tertinggi pada tahun ini. Jika mengikuti PBV pada saat IPO yaitu 1.6x maka valuasi SOCI ada di 860 (122% upside). Valuasi lengkapnya di bawah ini.

Valuasi SOCI
Valuasi SOCI

Not really a good valuation, tetapi tidak terlalu buruk.

Artikel lain terkait SOCI:

Prospek IPO Soechi Lines – Teguh Hidayat

Analisa perusahaan saya yang lain: 

Waskita Karya – The Integrated Construction Company

Indah Kiat Pulp & Paper – Promising or Not?

Adira Dinamika Multi Finance: Dividend Play

6 Reasons To Buy Ultrajaya (ULTJ)

Jasa Marga (JSMR): Bargain Stock

Agung Podomoro Land (APLN): Good or Bad?

Asuransi Dayin Mitra (ASDM): Continuously Growing Since 2008

1 2 3
Go to Top