Talk about finance, investing and everything in between

Category archive

Others - page 2

Kenapa Price-to Earning Ratio Saham Bank di Indonesia Rendah?

in Others by

Jika kita perhatikan, bank-bank di Indonesia “dihargai” relatif murah jika kita melihat dari Price to Earning Ratio (PER). Bisa dilihat pada chart dibawah ini yang berisi mean PE dari 10 bank terbesar di Indonesia sejak 2010. Dari 10 bank terbesar di Indonesia, hanya 3 bank yang PER nya lebih dari kisaran 13x kebawah, yaitu Bank Danamon, Bank BCA dan Bank BII (Maybank). Ketiganya pun bank swasta, padahal kita sering berpendapat bahwa BUMN seharusnya lebih aman dan biasanya yang lebih aman dihargai dengan PER yang lebih tinggi. Jika dibandingkan dengan mean PER IHSG yang berkisar di 18x (sumber: stockbit) ataupun kita bandingkan dengan 10 perusahaan terbesar non-bank di Indonesia berdasarkan market cap, maka PER bank akan terlihat makin kecil. Padahal jika dibandingkan secara ROA, ROE, dividend yield, margin dan sebagainya, rasio bank ada yang lebih baik dibanding perusahan non-bank. Lalu kenapa bank dihargai lebih murah?

Mean PER Bank di Indonesia
Mean PER Bank di Indonesia
  • Cyclitality

Bisnis perbankan berhubungan sangat erat dengan kondisi ekonomi. Ketika ekonomi bertumbuh dengan baik, permintaan pinjaman naik dan NPL akan turun, keduanya akan berpengaruh ke profit bank dan sebaliknya jika kondisi ekonomi melambat/buruk. Beberapa perusahaan cyclical lain seperti ASII dan UNTR juga dihargai relatif murah.

  • Financial Leverage

Seperti kata WB, “by the time you find out a bank has a problem, it will be too late”. Financial Leverage bank-bank di Indonesia berkisar dari 5 sampai 12x dan kebanyakan diantara 7-8x, jadi ketika bank terkena suatu masalah, leverage yang tinggi ini akan semakin memperbesar masalahnya.

  •  Interest Rate

Bisnis utama bank adalah dari meminjamkan uang lalu memberikan sebagian “kecil” dari keuntungan dari pinjaman itu kepada nasabahnya. Suku bunga pinjaman dan suku bunga tabungan tentu berbeda, perbedaannya ini yang disebut Net Interest Margin (NIM). Semakin kecil NIM maka akan semakin susah bank untuk mendapatkan profit. Maka hampir semua bank sekarang sedang giat-giatnya memajukan “fee” bisnis mereka seperti fee dari transaksi dari mobile banking, jasa wealth management dan lain-lain.

  • Financial Complexity

Satu kata, ketika kita melihat laporan keuangan bank maka akan terlihat bahwa urusan keuangan bank ini sangat kompleks, ada yang namanya Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan lainnya yang tidak ada di perusahaan non-bank. Too make things more complex, nilai CKPN ini berdasarkan dengan “asumsi” yang tentu orang awam seperti kita susah untuk mengerti.

  • Quality of Growth

Semakin besar suatu bank maka akan semakin susah untuk tumbuh dengan pesat.

Kesimpulan

Jadi ada 5 faktor yang menyebabkan bank di Indonesia dihargai relatif lebih rendah terhadap pasar atau perusahaan non-bank. Kelima faktor ini adalah cyclicality, financial leverage, interest rate, financial complexity dan quality of growth. Jadi, pada saat kita melakukan valuasi menggunakan PER dari saham bank di Indonesia, maka sebaiknya asumsi PER kita tidak terlalu tinggi, cukup dikisaran 13x karena memang segitu kisaran PER dari bank-bank di Indonesia.

 

 

 

PS: kelima faktor diatas belum saya cek dari sisi akademisnya (research).

 

 

Fortune Favours The Little

in Others by

Kita semua tahu Unilever (UNVR), salah satu saham perusahaan yang bisa dibilang salah satu perusahaan terbaik di Indonesia. Produk range-nya sangat banyak, mulai dari sabun, shampo sampai mentega. Sedangkan Mayora hanya berfokus kepada produk makanan, khususnya snack seperti beng-beng, biskuit, kopiko dan torabika. Lalu jika kita bandingkan dari sisi finansial rasio seperti ROE, GPM, NPM, earning growth dan lainnya, UNVR masih jauh lebih baik daripada MYOR.

ROE MYOR vs UNVR
ROE MYOR vs UNVR

Tapi coba tebak, sejak 2010 return saham apa yang paling besar? MYOR atau UNVR? Pasti banyak yang menduga UNVR :p Jawabannya adalah MYOR.

Return MYOR vs UNVR
Return MYOR vs UNVR

Contoh lainnya adalah Bank Tabungan Pensiunan Negara (BTPN) vs Bank Mandiri (BMRI) vs BCA (BBCA). Dari segi total aset, total DPK ataupun rasio-rasio keuangan seperti NPM dan ROE relatif lebih baik BMRI dan BBCA.

NPM BTPN vs BMRI vs BBCA
NPM BTPN vs BMRI vs BBCA

Coba tebak lagi, dari ketiga saham diatas mana yang returnnya paling tinggi? Jawabannya adalah BTPN.

Return BTPN vs BMRI vs BBCA
Return BTPN vs BMRI vs BBCA

Tapi tentu tidak semua yang kecil menghasilkan return lebih tinggi, salah satu contoh ini adalah Jasa Marga (JSMR) vs Citra Marga (CMNP) vs Nusantara Infrastructure (META). Di 2009, jika kita lihat market cap ketiganya, jelas JSMR yang paling tinggi, pada saat itu market cap JSMR sudah di sekitar Rp 12T sedangkan CMNP dan META masih sekitar Rp 1T. Tetapi dari 2009 sampai sekarang, yang menghasilkan return lebih tinggi tetap JSMR (400%), CMNP (104%) dan META (1.54%).

Artikel terkait: JSMR: Bargain & Relatively Safe Stock 

Kesimpulan

Selalu pilih saham yang kecil secara market cap-nya seperti judul diatas keberuntungan lebih berpihak kepada si kecil. Tapi tentu tetap dengan beberapa kriteria screening saham yang baik seperti:

  1. ROE tetap diatas 10% dan cukup stabil
  2. PER dibawah 20x

Jadi, jika saat kita memilih beberapa saham yang kita nilai baik lalu dana kita tidak cukup untuk membeli semua saham tersebut mungkin ada baiknya kita memilih saham dengan market cap terkecil dari kumpulan saham tersebut. Beberapa keuntungan saham dengan market cap kecil adalah lebih mudah untuk diakuisisi dan biasanya dipimpin oleh founder atau keturunannya yang lebih mengerti perusahaan dan bisnisnya.

Beberapa saham yang mungkin bisa menjadi the next MYOR atau BTPN adalah APLN, SMSM, BJBR, BJTM dan TOTL. Disclaimer On.

Mengindentifikasi Value Trap

in Others by

Valuation itself is probably the last thing we factor into our decision. Some of our very best shorts have been cheap or value stocks. We look more at the business to see if there is something structurally wrong or about to go wrong, and enter the valuation last. – Jim Chanos

Salah satu contoh yang bisa menjadi value trap adalah perusahaan batubara di Indonesia.

Berikut perbandingan beberapa indikator valuasi tahun 2013 dan 2015 (maaf data terbatas, subscription stockbit habis belum perpanjang :hammer)

Source: Reuters
Source: Reuters

Bisa dilihat pada table diatas, pada tahun 2013 saham-saham perusahaan batubara sudah termasuk murah dan cukup atraktif dengan DER yang juga rendah dan Current/Quick ratio yang tinggi dan semuanya membagi dividend dengan yield yang atraktif. Tapi bisa dilihat pada chart dibawah bagaiamana performa harga sahamnya sejak 2013.

Performance Chart
Performance Chart

Kelima saham perusahaan batubara itu terus turun sampe 70-90% sejak 2013.

Lalu perusahaan apa aja sih yang bisa masuk ke dalam value trap? Menurut Jim Chanos, founder hedge fund Kynikos yang spesialisasinya adalah short-selling ada 6 karakteristik perusahaan yang bisa masuk ke dalam value trap.

  1. Predictable, consistent cash flow
  2. Defensive and/or defensible business
  3. Not dependent on superior management
  4. Low/reasonable valuation
  5. Margin of safety using many metrics
  6. Reliable, transparent financial statements

Wait, 6 karakterisitik itu kayaknya sama kalo kita mau mencari perusahaan dengan value yang baik. Iya benar, karena untuk menjadi value trap, perusahaan itu harus “terlihat” mempunyai value yang baik dan murah juga. Jadi ibaratnya jika kita menemukan perusahaan yang punya value yang baik dan murah kita harus re-check lagi dengan 5 hal di bawah.

  1. Cyclical and/or overly dependent on one product
  2. Hindsight drives expectations
  3. Appears cheap using management’s metric & accounting issues
  4. Reliance on a super national put
  5. Marquis management and/or famous investor(s)

Berikut penjelasan poin-poin di atas.

Perusahaan batubara terlihat mempunyai value yang baik dan sangat murah tapi mereka sangat cyclical dan terpengaruh dengan harga komoditas, juga hanya menjual batubara (beberapa mulai mendiversifikasi ke pembangkit listrik tetapi ini juga bisa menjadi masalah, akan dibahas selanjutnya).

Beberapa perusahaan yang juga menjadi value trap biasanya “terjebak masa lalu”, mereka dulu punya bisnis yang sangat baik dan ketika trend berganti, teknologi berkembang, mereka ga mau mengakui kalo mereka tertinggal dan sudah kuno dan yakin bisnisnya akan kembali cerah lagi. Salah satu contohnya adalah Kodak. (Batubara mungkin bisa jadi juga)

Ini agak sulit sih, soalnya kebanyakan investor retail ya hanya bergantung dengan laporan keuangan dan kalo pun bertanya di public expose, kalo manajemen emang mau nakal pasti bisa menjawab dengan baik. Intinya, jika menemukan “keanehan” di laporan keuangan harus mulai waspada.

Terlalu bergantung pada pemerintah atau pada permintaan atas dasar nasionalisme.

Sebelum membahas point keempat, no offense ya, mungkin bisa pake cerita Pak Lo Kheng Hong (LKH) dengan saham PTRO. Sejak berita ini terbit “Lo Keng Hong; Saya baru mengoleksi saham PTRO” pada Januari 2014, PTRO sudah turun 78% sampai saat ini. Pada saat itu PTRO memang terlihat punya value yang bagus dan murah, dan saya juga sempat memiliki. 😛 Jadi, jadi ketika ada saham dengan value yang baik terus mendengar investor terkenal masuk lalu yakin itu pasti bagus, selalu re-check lagi dengan dua point diatas.

Ini tambahan karena saya melihat di stockbit ada diskusi kenapa perusahaan batubara belum banyak yang mendiversifikasi bisnisnya dan emiten yang punya cash sangat banyak (cash per share = price).

Kenapa diversifikasi dan punya cash banyak bisa jadi value trap? Pertama, investor tergoda dengan perusahaan yang cash holdingnya besar (anggap DER rendah) tetapi bisnisnya menurun dan menganggap perusahaan bisa menjadi penghasil kas buat investor via dividend, tapi kebanyakan perusahaan seperti ini pada akhirnya bisnisnya menurun lebih cepat daripada kemampuannya menghasilkan tambahan kas. Lalu kebanyakan perusahaan seperti ini malah menggunakan sebagian besar kasnya untuk mendiversifikasi/berekspansi daripada membagi dividend, dan biasanya karena manajemen mungkin tertekan dan hanya ingin terlihat bisa menyelamatkan perusahaan jadinya diversifikasi dan ekspansi ini hasilnya malah membuat kondisi perusahaan semakin buruk.

Lalu bagaimana kita menghindari value trap?

  • Liat bisnisnya dulu baru valuasinya
  • Waspada dengan perusahaan yang tumbuh atau jatuh terlalu cepat (harga sahamnya, earning ataupun aset)

 

Beberapa artikel buat tambahan:

Quest For High Return Stock

in Others by

Satu hal yang jadi tujuan utama investor dan trader saham, mencari saham yang menghasilkan return setinggi-tingginya. Salah satu istilah populer saham dengan return tinggi adalah 10-bagger-nya Peter Lynch. Kita juga tau kalo memilih saham (stock picking) itu sulit. Tapi apakah memang benar-benar ada saham yang bisa menghasilkan return yang tinggi?

Dengan menggunakan stockbit screener, kita mencari saham dengan return diatas 50% selama 3 tahun terakhir dibagi 2 kategori, saham dengan kapitalisasi pasar diatas Rp 10 trilyun dan dibawah Rp 10 trilyun. Hasilnya?

Dari 500 sekian saham di bursa Indonesia (di stockbit screener hanya masuk 445), hanya 19 saham dengan kapitalisasi market diatas Rp 10 trilyun yang menghasilkan return diatas 50% selama 3 tahun terakhir.

Saham market cap > 10 T
Saham market cap > 10 T

DNET seperti yang mungkin teman-teman udah tau, bisa dibilang saham “gorengan” dan kurang aktif, begitu juga ULTJ yang kurang aktif. Lalu tersisa LPPF dan PTPP yang ternyata return-nya sangat tinggi, 509% dan 336%, keduanya bisa digolongkan saham yang cukup aktif, artinya investor/trader retail bisa membeli dan menjual dengan cepat (bid-ask spread-nya ga jauh). Lalu ternyata beberapa saham “blue chip” seperti BBRI dan TLKM juga menghasilkan return yang lumayan, diatas 50% selama 3 tahun terakhir. Sebagai perbandingan, di bursa ada 71 saham dengan kapitalisasi market diatas Rp 10 T, berarti kurang lebih ada 26.7% yang menghasilkan return diatas 50% selama 3 tahun terakhir. Cukup baik kan ya?

Lalu bagaimana saham dengan kapitalisasi market di bawah Rp 10 trilyun? Sebagai catatan ada 373 saham dengan kapitalisasi di bawah Rp 10 trilyun. Ternyata ada 67 saham yang menghasilkan return di atas 50% selama 3 tahun terakhir, atau sekitar 18%.

Saham market cap <10 T
Saham market cap < 10 T

Jika melihat perbandingan persentase diatas, maka lebih besar kesempatan kita mendapat saham dengan return saham yang tinggi di saham dengan kapitalisasi market diatas Rp 10 trilyun dari dibawah, meskipun perbedaanya sangat tipis.

Lalu apakah pertumbuhan laba memang berpengaruh ke return saham? Dari 86 saham dengan return di atas 50% selama 3 tahun terakhir, hanya 39 saham yang CAGR EPS-nya diatas 20% dalam rentang waktu yang sama (3 tahun) atau hanya 45% dari 86 saham itu. Sebagai perbandingan, ada 123 saham yang memiliki CAGR EPS 3 tahun di atas 20%, jadi hanya 31.7% saham yang CAGR EPS 3 tahun di atas 20% yang menghasilkan return di atas 50% selama periode yang sama.

EPS CAGR 3y >20%
EPS CAGR 3y >20%

 

Sebagai catatan, kondisi pasar saham saat ini belum bisa dibilang optimal (masih dalam koreksi), jadi hasilnya terlihat agak jelek, nanti saya coba update jika pasar kembali optimal.

Kenapa Kita Berinvestasi?

in Others by

quote-our-stay-put-behavior-reflects-our-view-that-the-stock-market-serves-as-a-relocation-center-at-warren-buffett-214534Ada berbagai macam alasan kenapa orang melakukan sesuatu, entah itu baik atau buruk. Alasan itu bisa juga menjadi tujuan dari hal yang kita perjuangkan. Tanpa tujuan dan alasan kita bakal kehilangan arah, sama seperti kapal di lautan, normalnya kapal mempunyai rute dari A ke B, jika kapal ga punya tujuan dia hanya mengapung di lautan.

Sama dengan investasi, tujuan kita harus jelas, apa yang ingin dicapai dengan kita investasi? Apakah untuk masa setelah pensiun? Untuk menyekolahkan anak? atau tujuan lain? Untuk kebanyakan orang termasuk saya, saya berinvestasi, khususnya di saham atau reksadana karena saya punya uang lebih yang belum terpakai saat ini dan untuk nilai uangnya tidak turun (karena inflasi) lebih baik saya investasikan.

Slide11

Kenapa alasan atau tujuan dalam investasi itu penting? Karena dalam jangka pendek, ga ada yang tau harga saham atau nilai investasi itu akan naik atau turun, tapi dalam jangka panjang tentu nilai investasi akan naik (jika investasinya benar). Balik lagi ke perumpamaan kapal di lautan, kita berangkat dari A ke B, selama perjalanan ga ada yang tau kondisi cuaca dan ombak selama perjalanan bakal bagaimana, tapi jika kita tekun, hati-hati dan punya tujuan untuk mencapai B maka kita akan sampai pada akhirnya.

Saham coca cola sebagai contoh, pada saat IPO tahun 1919 harganya sekitar 40 dollar, setahun kemudian tahun 1920 harganya turun sampai sekitar 19 dollar, coba kita posisikan kita membeli pada saat IPO. Apakah kita ga takut ketika harta kita berkurang setengah? Lalu coba jika pemegang saham coca cola kita kasih tau dalam beberapa tahun kedepan akan ada great depression terus perang dunia kedua, 90% pasti akan menjual saham coca cola. Pada saat itu juga kita ga tau kalo coca-cola bakal mendunia dan menjadi global brand. Tapi dari 1919 sampe 1931 saja return saham coca-cola sudah 1000% lebih dan dari 1919 sampe 2012 satu saham coca-cola seharga 40 dollar akan bernilai 9,8 juta dollar di 2012.

ASTRA_International

Contoh lain pada saat krisis keuangan global, Indonesia juga kena dampaknya, misal pada saat itu kita tau kalo Astra International (ASII) adalah perusahaan yang bagus, berhasil melewati krisis 1998 dan pada tahun 2007 kondisi keuangannya cukup baik. Kita lalu membeli saham ASII di akhir 2007 di harga 2700, setahun kemudian harganya turun 78% sampai ke terendahnya 940. Pada saat itu krisis keuangan global, kondisi ekonomi tidak jelas, tentu kita akan panik, dan menjual saham ASII. Tapi jika kita sabar, fokus dan tujuan investasi kita jelas untuk jangka panjang maka kita tidak menjual. Jika kita melihat kondisi ASII sendiri pada 2008 net incomenya masih naik dari Rp 6.5 T di 2007 menjadi Rp 9.1 T di 2008.

 

Net income ASII
Net income ASII

Sampe November 2015 kita sudah mendapat return sekitar 120% (asumsi beli di 2007 pada harga 2700 dan tidak membeli lagi). Hampir sama dengan post saya dalam Investasi Tanpa Keberuntungan. Bahkan jika kita masuk pada saat terburuk kita masih mampu melipatgandakan kekayaan kita, apalagi dengan metode Dollar Cost Averaging. Tapi memang kebanyakan kita tidak seperti itu, ada satu penelitian, kebanyakan orang masuk ke reksadana pada saat performnya bagus dan saat titik puncak (market peak), tidak lama kemudian harganya turun lalu kita akan menjual pada saat harga rendah, dan terus seperti itu. (Baca: Disposition Effect: Sell Winners, Hold Losers). Belum lagi dengan jaman internet, kita bisa dapet segala macam informasi, entah benar atau salah 24 jam sehari 7 hari seminggu, non stop. Dengan kata lain noise dimana-mana. Menurut suatu penelitian (di AS) average holding period investor saham turun drastis dari sekitar 7 tahun di 1940 menjadi hanya 5 hari di 2010. Tapi seperti kata Warren Buffett “Our stay-put behavior reflects our view that the stock market serves as a relocation center at which money is moved from the active to the patient”

quote-understanding-both-the-power-of-compound-interest-and-the-difficulty-of-getting-it-is-charlie-munger-102-43-15

Ga ada yang bilang ini mudah dan memang ga ada jalan yang mudah untuk berhasil. Buktinya hanya ada satu Warren Buffett. Tapi dengan fokus, sabar, disiplin dan punya tujuan yang jelas, insya allah setidaknya kita bisa jadi lebih baik dari sekarang, ga hanya di investasi tapi juga dalam hidup. :peace

Investasi Tanpa Keberuntungan

in Others by

51a9fcc948c53_51a9fcc961209

Namanya boleh Untung, tapi Untung ini orang paling tidak beruntung ketika berinvestasi. Untung mulai memperoleh penghasilan sendiri di tahun 1984 saat umurnya 25 tahun. Untung mencoba untuk menabung penghasilannya setiap tahun. Dari tahun 1984 sampai tahun 1999 Untung mampu menabung sebanyak 20 juta rupiah setiap tahunnya. Tahun 2000 sampai tahun 2009 Untung mampu menabung sebanyak 40 juta rupiah setiap tahunnya dan dari tahun 2010 sampe Untung pensiun di 2014 mampu menabung sebanyak 60 juta setiap tahunnya. Jika dijumlah, keseluruhan tabungan Untung adalah 1 milyar 20 juta rupiah.

Screen Shot 2015-08-18 at 1.57.36 PM

Tahun 1997 Untung mulai mencoba untuk memasukan tabungannya ke pasar modal, tapi sayangnya pengetahuan Untung terhadap pasar modal sangat terbatas dan dia hanya berani masuk pada saat harga saham sudah naik banyak. Anggap saja ada produk reksadana IHSG atau index fund. Untung membeli reksadana pertamanya di bulan Juli 1997 dengan semua uang yang telah ditabung sejak 1984, pas sebelum IHSG drop sebanyak 66% pada saat krismon. Benar-benar tidak beruntung, tidak ingin menjual pada saat yang salah juga, akhirnya Untung tidak menjual sedikitpun reksadananya.

Untung lalu tidak nyaman untuk masuk lagi, meskipun tahun 1999, IHSG kembali ke titik sebelum krismon. Setelah 10 tahun berlalu dari 1997, Untung melihat IHSG sudah naik banyak, dari sekitar 300an-700an menjadi 2800. Akhirnya Untung memutuskan untuk membeli reksadana IHSG yang sama seperti di tahun 1997 pada bulan Desember 2007. Emang namanya sial, setahun kemudian IHSG malah turun 62%. Untung masih tidak menjual sedikitpun dari reksadananya. Lalu akhirnya, setahun sebelum Untung pensiun di bulan Mei 2013, dia membeli lagi reksadana IHSG yang sama karena IHSG hampir naik 2x lipat dari terakhir kali dia membeli. Beberapa bulan setelahnya IHSG turun 28% karena isu tapering dari The Fed.

Untung selalu membeli reksadana IHSG di harga puncak sesaat sebelum mengalami penurunan yang ekstrem. Berikut daftar kapan Untung membeli, diharga berapa dan penurunan setelah membeli.

Screen Shot 2015-08-18 at 1.59.13 PM

Screen Shot 2015-08-18 at 2.01.51 PM

Untungnya, si Untung tidak pernah menjual sedikitpun dari reksadananya, dan pada tanggal 17 Agustus 2015 Untung melihat rekening reksadananya dan dia terkejut, saldo pada saat itu adalah Rp 2,586,557,845 ditambah 60 juta rupiah uang tabungannya yang belum dimasukan. Ternyata meskipun Untung selalu membeli pada saat terburuk, pada akhirnya Untung masih bisa melipat gandakan uangnya dibanding dengan hanya ditabung.

albert_einstein-compound-interest-680x306

Kesimpulannya, investasi itu harus sesederhana mungkin, bahkan tanpa kemampuan valuasi atau “market timing” kita mampu meraih hasil yang baik, karena dengan jangka waktu yang panjang, bahkan keputusan yang buruk dan kesialan bisa dihilangkan dengan “compound interest”. Jadi coba bayangkan, misalnya Untung memakai strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dengan membeli setiap akhir/awal tahun.

Screen Shot 2015-08-18 at 2.11.38 PM

Dengan metode DCA Untung bisa mendapat 6.2 milyar rupiah. Atau bagaimana jika Untung tidak membeli reksadana IHSG tapi saham yang baik seperti Unilever? Tentu hasil yang didapat akan lebih baik lagi. Jadi meskipun kita bernasib sial dan punya pengetahuan terbatas kita masih bisa meraih hasil investasi yang baik dengan kedisiplinan, tujuan jangka panjang dan compound interest.

quote-you-don-t-need-to-be-a-rocket-scientist-investing-is-not-a-game-where-the-guy-with-the-warren-buffett-53-15-70

 

Sumber: What if You Only Invested at Market Peaks? – A Wealth of Common Sense

Go to Top