Talk about finance, investing and everything in between

Category archive

Fundamental Analysis

Looking Deeper To Coal Stocks

in Fundamental Analysis by

Saham perusahaan-perusahaan batubara di IDX merupakan salah satu saham yang pergerakannya cukup atraktif dan menarik. Bisa menghasilkan return yang tinggi dalam waktu cepat tetapi juga bisa jatuh dalam waktu yang cepat juga. Juga program pemerintah membangun pembangkit listrik 35000 MW yang sebagian besar menggunakan batubara. Disini saya akan mencoba melihat lebih dalam ke beberapa saham perusahan batubara, saya memilih yang akhir-akhir ini cukup aktif diperdagankan yaitu ADRO, PTBA, ITMG, HRUM, KKGI, CNKO, SMMT dan INDY. Sebenernya ada satu lagi, saham yang mungkin paling populer diantara trader dan investor di Indonesia yaitu BUMI, tetapi kita skip aja.

Pertama kita lihat dari market cap, top 3 nya adalah ADRO, PTBA dan ITMG.

Market cap batubara
Market cap batubara

Lalu ada satu rasio lagi yang menggambarkan besar perusahaan tersebut namanya Enterprise Value (EV). Jika melihat rasio EV ini maka hasil yang didapat akan sedikit berbeda. Top 3 untuk EV menjadi ADRO, PTBA dan INDY.

Enterprise Value batubara
Enterprise Value batubara

Wah EV/market cap INDY jadi besar sekali dong? Kurang lebih 4.6x. Apakah INDY undervalued? Sebelumnya karena KKGI, SMMT dan CNKO cukup kecil jadi kita skip dulu. Mari kita liat return ytd tahun ini untuk saham-saham batubara, tadaaa, INDY ternyata sudah menghasilkan return sebesar 400%!!!! Jadi pada awal tahun, market cap INDY hanya seperempat market cap sekarang yang berarti EV/market capnya lebih besar lagi. (market cap INDY pada awal tahun hanya 570 Milyar, sedangkan EV disekitar 14.7 Trilyun yang berarti EV/market cap INDY adalah 25x!!!)

Return ytd 2016 batubara
Return ytd 2016 batubara

Market leader di batubara adalah ADRO dengan total asset sebesar 78.9 Trilyun diikuti oleh INDY dengan 28 Trilyun, PTBA dan ITMG kurang lebih sama sekitar 16 Trilyun dan HRUM sebesar 5 Trilyun. Lalu kita lihat lagi ke market cap dan EV, keduanya jauh dibawah total asset perusahaan-perusahaan batubara tersebut. EV yang menurut beberapa expert sebagai angka yang lebih cocok sebagai nilai perusahaan jika ingin diakuisisi juga masih dibawah total asset.

Rasio EV batubara
Rasio EV batubara

Jika dilihat dari rasio diatas maka beberapa dari saham batubara itu tergolong “murah”. INDY dan ITMG bisa dibilang hanya dihargai setengah jika ingin mengakuisisi semua asetnya dan HRUM lebih murah lagi.

Sebelum terlalu bersemangat melihat saham perusahaan batubara yang terlihat murah, mari kita lihat solvency rasionya dulu. INDY meskipun terlihat begitu murah, selain EV/EBIT dan EV/FCF nya negatif DERnya juga yang paling tinggi yaitu 1.5x

Solvency batubara
Solvency batubara
Dividend
Dividend

Perlu diperhatikan juga bahwa INDY dan HRUM sudah lama tidak memberikan dividend. Mungkin value HRUM akan bisa dibuka jika mereka mengumumkan pembagian dividend.

Operating cash flow INDY juga sangat kecil, hanya 3.5% dan 1.5% dari EV dan total asset.

Screen Shot 2016-07-14 at 7.51.49 AM

OCF
OCF

Revenue generation INDY juga relatif kurang bagus. Dengan asset yang 28 Trilyun, INDY hanya mampu menghasilkan pendapatan sebesar 13 Trilyun, begitu juga ADRO yang kurang baik. Sedangkan ITMG mempunyai revenue generation yang paling baik.

Revenue
Revenue

Di sisi lain, banyak investor yang lebih melihat “potensi” dibanding kondisi saat ini atau sebelumnya, revenue generation yang rendah bisa berarti perusahaan-perusahaan tersebut belum maksimal dalam mengelola assetnya. Melihat EV/TA juga yang dibawah 1x menandakan perusahaan tersebut belum mencapai fair value, harapannya jika harga batubara membaik, perusahaan bisa lebih memaksimalkan aset-asetnya sehingga harga sahamnya bergerak dan mencapai fair valuenya.

Pertanyaannya, apakah mungkin perusahaan batubara bisa pulih dan menghasilkan return lebih tinggi? INDY saja sudah menghasilkan return 400% dalam setengah tahun. Mari kita lihat perbandingan market cap pada tahun 2011 dan 2016 di bawah ini.

Market cap 2011
Market cap 2011
Market cap 2016
Market cap 2016

Sangat jauh kan bedanya? HRUM yang dulu dihargai 27 Trilyun sekarang hanya 2.2 Trilyun, ADRO yang dulu dihargai 81.5 Trilyun sekarang hanya 28.3 Trilyun.

If I have to pick, maka urutan pilihan saya untuk saham batubara adalah ITMG, HRUM, ADRO, PTBA, INDY. Overall kelima perusahaan tersebut mempunyai valuasi dan rasio keuangan yang baik dan track record yang ga pernah aneh-aneh.

Tetapi kita harus berhati-hati jika ingin masuk saham batubara/pertambangan pada semester dua ini. Tahun ini adalah salah satu tahun terbaik untuk semester 1, hanya terjadi 2 kali koreksi. Tahun yang semester 1-nya sama/lebih baik adalah 2014, 2011, 2009 dan 2008. Dari keempat tahun tersebut hanya tahun 2009 yang semester 2-nya masih positif, 2014, 2011 dan 2008 semester 2-nya berakhir merah.

Mining seasonality
Mining seasonality

Jangan lupa, saham perusahaan batubara sangat terpengaruh harga batubaranya dan juga banyak negara mulai meninggalkan penggunaan batubara, juga hati-hati terhadap value trap. Apa itu? Bisa dibaca di post saya disini Mengindentifikasi Value Trap

Mengenal Shareholder Yield

in Fundamental Analysis by

Kita sudah cukup sering mendengar yang namanya dividend yield, yaitu jumlah dividend yang dibagikan perusahaan dibagi dengan kapitalisasi pasar dari perusahaan tersebut. Tapi, mungkin hanya sedikit yang tau atau pernah mendengar yang namanya shareholder yield. Lalu apa itu shareholder yield?

Shareholder yield adalah dividend yield ditambah dengan net buyback yield ditambah lagi net debt paydown yield. Dividend yield seperti sudah disebut di atas adalah dividend yang dibagikan perusahaan dibagi dengan kapitalisasi pasar dari perusahaan tersebut. Lalu net buyback yield adalah jumlah saham yang dibeli kembali (buyback) dibagi dengan kapitalisasi pasar dalam satu tahun terakhir, atau jika perusahaan tersebut juga menerbitkan saham baru maka jumlah buyback dikurangi jumlah penerbitan saham baru dibagi dengan kapitalisasi pasar. Net debt paydown yield adalah jumlah pembayaran utang (bunga + principal) dibagi dengan kapitalisasi pasar. Tambahkan ketiga yield tersebut maka dapatlah shareholder yield.

Terus, buat apa sih shareholder yield? Ide dari shareholder yield sendiri adalah untuk kita mengetahui kemampuan perusahaan memberikan cash return kepada shareholdernya diliat dari pembayaran dividend, buyback ataupun membayar utang. Semakin tinggi shareholder yield maka semakin baik kemampuan perusahaan tersebut untuk memberikan cash return ke shareholdernya.

Sebagai gambaran, jika perusahaan X mempunyai dividend yield sebesar 2%, buyback yield 0% dan net debt paydown yield sebesar 2% maka shareholder yield perusahaan tersebut adalah 4%.

Shareholder yield ini adalah pengembangan dari yield investing. Apa itu yield investing? Yield investing adalah kita invest pada perusahaan dengan dividend yield yang tinggi. Tapi kadang di beberapa negara, sangat sulit untuk mencari saham perusahaan dengan dividend yield yang cukup menjanjikan. Lalu muncul ide shareholder yield ini, jadi semakin banyak pilihan perusahaan yang bisa untuk kita invest. Tentu dengan beberapa pertimbangan lainnya.

Lalu bagaimana performa return kita jika kita menggunakan strategi shareholder yield ini? Dibawah adalah performanya di Amerika Serikat. (Belum menemukan hasil untuk Indonesia)

Source: Shareholder Yield "A Better Approach to Dividend Investing"
Source: Meb Faber, Shareholder Yield “A Better Approach to Dividend Investing”, 2013
Source: Shareholder Yield "A Better Approach to Dividend Investing"
Source: Meb Faber, Shareholder Yield “A Better Approach to Dividend Investing”, 2013

Bisa dilihat bahwa dengan menggunakan strategi shareholder yield di AS bisa outperform S&P500 lebih dari 4% dari 1982-2011 dengan drawdown yang lebih rendah dan sharpe ratio yang lebih baik.

Beberapa contoh penghitungan shareholder yield di Indonesia.

Gudang Garam (GGRM), Indofood Sukses Makmur (INDF) dan Jasa Marga (JSMR) mempunyai dividend yield yang relatif rendah, 1.19%, 3.09% dan 0.8%. Ketiganya sepengetahuan saya tidak ada buyback saham sepanjang 2015. Mari kita hitung dari JSMR, per April 2016, kapitalisasi pasar JSMR adalah Rp 36.3 T, pada 2015, JSMR mempunyai beban keuangan (utang bank, obligasi dan lembaga keuangan lain bukan bank) sebesar Rp 1.4 T, yang berarti net debt paydown yield JSMR adalah Rp 1.4 T dibagi dengan Rp 36.3 T, hasilnya adalah 3.8%. Jika ditambah dengan dividend yield JSMR maka shareholder yieldnya adalah 4.6%. Lalu untuk GGRM dan INDF, net debt paydown yield masing-masing adalah 1.1% dan 2.4% sehingga shareholder yield untuk masing-masing emiten adalah 2.29% dan 5.49%.

Mengevaluasi Laba Ditahan (Retained Earnings)

in Fundamental Analysis by

Unrestricted earnings should be retained only where there is a reasonable prospect – backed preferably by historical evidence or, when appropriate by a thoughtful analysis of the future – that for every dollar retained by the corporation, at least one dollar of market value will be created for owners. This will happen only if the capital retained produces incremental earnings equal to, or above, those generally available to investors. – Warren Buffett, 1984

Laba ditahan (Retained Earning) disingkat RE adalah salah satu cara bagi perusahaan untuk membiayai ekspansi dari perusahaan selain mencari utang, menerbitkan obligasi, atau melepas saham. RE didapat dari laba (net income) perusahaan. Ada dua hal yang bisa dilakukan perusahaan dengan laba.

  1. Membagikan dividen dari ke investor, dalam bentuk kas, buybacks atau saham bonus.
  2. Menggunakan laba untuk meningkatkan profitabiltas perusahaan atau menahan laba.

Jika belajar manajemen keuangan, salah satu masalah mendasar dari hubungan manajemen adalah agency theory, hubungan antara principal (owner/investor) dengan agent (manajemen perusahaan). Tentu principal ingin memaksimalkan keuntungan dari modal yang ditanamkan, dan agent seharusnya bertindak dengan tujuan memaksimalkan keuntungan principal. Tetapi, kadang agent bertindak untuk keuntungannya sendiri atau pihak lain. Jadi, untuk beberapa kasus, principal lebih memilih untuk mendapatkan dividen dari laba perusahaan daripada menginvestasikan kembali laba ke perusahaan.

Dari RE kita bisa melihat seberapa efektif dan efisien manajemen memaksimalkan RE tersebut bagi perusahaan, caranya adalah dengan melihat berapa pertumbuhan laba dalam berapa tahun terakhir lalu dibagi dengan akumulasi RE selama periode tahun tersebut. Ini biasa dinamakan Return on Retained Earnings (RORE).

RORE = pertumbuhan laba selama periode N/akumulasi retained earning selama periode N

Misal dari 2010-2014 laba bertumbuh dari Rp 50/saham menjadi Rp 100/saham atau tumbuh Rp 50 per saham, sedangkan akumulasi RE selama periode tersebut adalah dari Rp 25/saham. Jika laba bertumbuh Rp 50 per saham dibagi akumulasi RE Rp 25 per saham maka akan mendapatkan RORE sebesar 2 atau 200%. Dengan kata lain, setiap Rp 1 yang menjadi laba ditahan, manajemen berhasil menggunakannya untuk meningkatkan laba sebesar Rp 2.

Berikut dibawah ini hasil perhitungan laba bertumbuh/RE dari 10 perusahaan dengan market cap terbesar di Indonesia.

Semakin besar RORE maka mengindikasikan sebaiknya perusahaan menginvestasikan kembali labanya dibanding membagikan dividen. Sebaliknya, jika RORE semakin rendah sebaiknya perusahaan membagikan laba sebagai dividen. Jadi ketika kita menemukan RORE yang rendah tetapi perusahaan tidak membagikan dividen, atau payout ratio-nya rendah berarti manajemennya kurang efektif memaksimalkan laba dan kita harus mempertanyakan keputusan tidak membagikan dividen.

Screen Shot 2015-09-15 at 9.11.08 AM

Bisa dilihat perusahaan dengan RORE paling besar adalah Unilever (UNVR) karena UNVR ini setiap tahun selalu membagikan hampir semua labanya sebagai dividen tetapi tetap mampu meningkatkan laba. Mari kita lihat data UNVR ini. Dari 2010-2014 laba bersih UNVR (dalam EPS) bertumbuh dari 443.6 per saham menjadi 752.1 per saham atau meningkat sebesar 308.5 per saham. Sedangkan RE UNVR dari 2010-2014 hanya meningkat dari 507.60 per saham menjadi 580.07 per saham atau hanya meningkat 72.47 per saham. Alhasil jika laba bertumbuh UNVR sebesar 308.5 per saham dibagi dengan akumulasi RE yang hanya 72.47 per saham akan didapat hasil 4.25 atau 425%. Dengan kata lain setiap Rp 1 laba yang ditahan oleh UNVR, manajemennya mampu meningkatkan laba UNVR sebesar Rp 4.25. Sangat baik.

Jika kita melihat saham 4 saham bank terbesar, yang memiliki RORE paling baik adalah Bank BNI (BBNI).

Bagaimana dengan RORE saham favorit teman-teman? Silahkan hitung sendiri :p

Artikel lebih lanjut:

Warren Buffett Secret – Retained Earnings

The Mysterious Disappearance of Retained Earnings – Harvard Business Review

52-Week Low Formula – Indonesia Application

in Fundamental Analysis by

Ada begitu banyak strategi screening saham, saya baru nemu satu lagi dari buku The 52-Week Low Formula karya Luke. L. Wiley.

1411017796_52weeks

Singkatnya dalam buku tersebut, ada 5 tahap screening.

  1. Competitive advantage screening
  2. Free Cash Flow (FCF) yield
  3. Return on Invested Capital (ROIC)
  4. Long Term Debt to FCF
  5. 52 week low

Untuk tahap pertama saya ga bakal ngejelasin, pertama karena terlalu panjang, kedua biar ada sedikit misteri biar tertarik baca bukunya hehehe

Tahap kedua adalah FCF yield, cara menghitungnya

Free Cash Flow/Entreprise Value – kita mencari yang nilainya diatas bunga bank (risk free rate), dengan kondisi sekarang di atas 7.5%

Tahap ketiga adalah ROIC, cara menghitungnya

Net Operating Profit After Tax (NOPAT)/Invested Capital – indikator ini berfungsi layaknya ROE/ROA tetapi, kita mencari saham dengan ROIC diatas 15%

Tahap keempat adalah Long Term Debt to FCF, cara menghitungnya seperti namanya

Long Term Debt/Free Cash Flow  – indikator ini berfungsi untuk mengetahui berapa lama utang bisa lunas dibayar dengan menggunakan free cash flow, semakin rendah semakin bagus, kita coba mencari yang dibawah 20x

Tahap terakhir adalah, jika semua screening diatas terpenuhi kita mencari saham yang harganya di sekitar 52-week low atau dekat dengan titik terendah dalam setahun.

Dengan stockbit screener, kita mendapatkan hasil seperti ini.

Screen Shot 2015-09-10 at 9.11.52 PM

Ada 19 saham yang lolos empat tahap screening dan hampir semua adalah saham terkait komoditas. Seperti screening lainnya, jika ingin masuk harap meneliti lebih lanjut lagi. 🙂

Inti dari screening ini adalah mencari saham dengan kualitas keuangan yang baik dan “mungkin” undervalued. Jika ingin tau bagaimana performa portofolio dari screening ini di Amerika Serikat silahkan baca bukunya. 🙂

Catatan: Indikator ROIC tidak ada di Stockbit jadi diganti dengan ROCE. Penjelasan tentang ROCE bisa dibaca di sini

Review Buku The 52-Week Low Formula – Value Walk

Modern Benjamin Graham – Indonesia Case

in Fundamental Analysis by

A8

Pagi-pagi ini dapet artikel baru yang cukup menarik tentang aplikasi formula Benjamin Graham di modern days. Buat yang belom tau siapa Benjamin Graham monggo google dulu.

Jadi basic formula Benjamin Graham itu:

Value = EPS x (8.5 + 2G)

Penjelasan formulanya dikit (mengutip dari blognya Parahita).

8.5 = P/E wajar untuk perusahaan yang tidak tumbuh labanya

G = tingkat pertumbuhan laba jangka panjang (7 -10 tahun)

Karena asumsi valuasi ini cukup agresif, lalu Benjamin Graham memodifikasi formula tersebut jadi

Value = EPS x (8.5 + 2G) x (4.4/AAA)

4.4 = risk free rate di US pada jaman itu

AAA = kupon tertinggi dari obligasi korporat berkualitas tinggi

Lalu, di artikel yang saya baca, EPS itu sendiri dimodifikasi jadi weighted EPS selama 5-10 tahun kebelakang pake metode sum of the years digit method

Dalam mencari G, mereka menggunakan metode current EPS dikurangi EPS 5 tahun yang lalu dibagi 5. Setelah itu mereka menggunakan Margin of Safety growth rate 0.75,  jika hasilnya nanti tetap lebih dari 15% maka dianggap G hanya 15%. Angka 2 sendiri bisa dirubah menurut penilaian kita, beberapa artikel yang pernah saya baca, 2 dianggap terlalu aggresif sehingga diganti 1 atau 1,5, atau kadang dianggap terlalu konservatif, sehingga diganti 2.5 atau 3. IMO, asumsi 2G pas di Indonesia yang kondisi ekonominya masih punya potensi yang besar.

Penyesuaian di Indonesia menurut Parahita, 4.4 diganti dengan BI rate pada saat itu dan definisi AAA sama. IMO, AAA bisa diganti dengan kupon obligasi ritel/sukuk ritel (ORI/SR) yang tertinggi yang masih diperdagangkan. Saat ini adalah SR 006 (8.75%), karena info untuk membeli obligasi korporat untuk ritel masih terbatas, saya masih belum tau apa ritel bisa beli atau tidak.

Setelah dapat hasil dari perhitungan dengan formula diatas, Benjamin Graham juga merekomendasikan penggunaan MoS sebesar 50%.

Jika Relative Graham Value (RGV) (value/current price) < 1 berarti overvalued, > 1 berarti undervalued.

Ini cuma salah satu metode valuasi, pemilihan investasi punya banyak pertimbangan lainnya. Be wise. 🙂

Artikel-artikel terkait:

Memilih Saham a la Benjamin Graham (Bagian 2)
Modern Graham
How to Value a Stock with the Benjamin Graham Formula

Saya udah mencoba menggunakan formula untuk beberapa saham, sampai saat ini yang mempunyai RGV > 1 adalah BBTN, BNGA, BBRI, BTPN, TOTL, SSIA, MBSS, MPMX. Kalo mau request saham yang lain silahkan. 🙂
Go to Top