Talk about finance, investing and everything in between

Author

Hilmawan Kusumajaya - page 3

Hilmawan Kusumajaya has 49 articles published.

Big 5 & Big 10 Portofolio

in Others by

Tidak semua orang punya waktu dan ilmu untuk mencari saham “mutiara terpendam”. Lalu solusinya apa untuk orang-orang seperti itu? Solusi yang paling gampang adalah investasi di reksadana saham. Tapi terkadang reksadana saham returnnya kurang bagus, atau yang returnnya bagus ada minimum investasi yang tidak kecil, belum lagi biaya beli, biaya jual dan biaya lain-lain (Baca: Mengenal Reksadana Lebih Dalam). Lalu solusi kedua apa? Setelah saya liat-liat, return 5 saham dan 10 saham dengan market cap terbesar di Indonesia tidak cukup buruk.

Pada 2013, 10 saham dengan market cap terbesar adalah: ASII, HMSP, BBCA, BMRI, TLKM, BBRI, UNVR, PGAS, GGRM dan SMGR. Jika kita bagi porsinya berdasarkan besaran market cap ke-10 saham tersebut, maka sampe 2015, 10 saham ini menghasilkan return sebesar 27.85% dan sampai 20/12/2016 menghasilkan return sebesar 39.47%. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama, return IHSG adalah 6.25% dan 19.41%.

Jika kita mengambil 5 saja yang terbesar, ASII, HMSP, BBCA, BMRI dan TLKM, return yang dihasilkan lebih baik. Sampai 2015, menghasilkan return sebesar 35.31% dan sampai 20/12/16 menghasilkan return sebesar 48.5%.

Big 5 & Big 10 buy and hold vs IHSG

Kita tau bahwa posisi saham dengan market cap terbesar berubah-ubah setiap tahunnya. Bagaimana jika kita portofolio 10 saham dan 5 saham terbesar itu kita update setiap tahunnya?

Jika kita mengambil 10 saham terbesar setiap tahunnya, maka return yang dihasilkan sampai 2015 adalah 28.56% dan 41.51% sampai 20/12/16. Jika kita mengambil hanya 5 saham terbesar setiap tahunnya, return yang dihasilkan sampai 2015 adalah 28.63% dan 52.31% sampai 20/12/16.

Big 5 & Big 10 Active vs IHSG

Bagaimana? Cukup memuaskan kan returnnya? Tanpa perlu capek-capek screening saham, menghitung valuasinya dan khawatir apakah ini perusahaan bener-bener bagus atau abal-abal.

Soechi Lines (SOCI): Calm Ocean Ahead?

in Stock Pick by

Mengingat Indonesia adalah negara maritim dan kepulauan, maka sektor shipping dan logistics cukup menarik untuk dibahas. Berdasarkan stockbit screener ada 20 perusahaan terdaftar pada sektor ini, dari ke-2o perusahaan tersebut hanya 7 perusahaan yang mencatatkan net income. Dari 7 perusahaan ini ada 3 dengan PBV dibawah 1x yaitu Soechi Lines (SOCI), Samudra Indonesia (SMDR) dan Pelayaran Nelly Dwi Putri (NELY). Dari 3 perusahaan ini hanya SOCI yang net incomenya bertumbuh dari 2013 sampai 2015. Sebenarnya selain SOCI, SMDR juga cukup menarik untuk dibahas karena jika melihat dari jumlah revenue maka SMDR ini adalah perusahaan shipping terbesar yang terdaftar di bursa, tetapi karena SMDR sahamnya lebih tidak likuid dari SOCI (SOCI juga relatif tidak likuid) maka saya coba membahas SOCI saja.

SOCI listing 2 tahun yang lalu pada akhir tahun 2014, pada saat listing harga IPO SOCI dihargai 1.6x PBV, harga yang cukup tinggi untuk sektor shipping sendiri dikarenakan sektor ini resiko kehilangan aset cukup tinggi sedangkan membutuhkan modal (utang) untuk pembelian aset (kapal) yang banyak. Timing IPOnya pun kurang bagus, pada akhir 2014, harga minyak dunia mulai terjun bebas, karena bisnis utama SOCI adalah pengangkutan minyak dan turunannya maka ada sentimen yang kurang baik. IPO dengan harga 550, sempat naik hingga 750 dan setelah itu terus turun sampai sekitar 380an di akhir 2015, sedangkan harga WTI crude oil pada akhir 2015 adalah sekitar 36 USD dan terus turun sampai dibawah 30 USD pada awal 2016. Pada Desember 2015 sampai akhir April 2016 jika kita melihat chart teknikal, SOCI sedang membangun channel uptrend. Pada saat itu mungkin investor berfikir SOCI mungkin tidak terlalu terpengaruh efek penurunan harga minyak.

Chart SOCI 1
Chart SOCI 1

Tetapi pada awal Mei 2016 pada saat LK kuarter pertama 2016 SOCI keluar, SOCI mengalami penurunan laba sampai 75% lebih sehingga labanya menjadi seperempat laba pada kuarter pertama 2015. Apa penyebabnya? Ternyata SOCI menjual kapalnya jauh dibawah harga buku, nilai bukunya masih sekitar 11 juta USD tetapi dijual hanya 7.5 juta USD.

Penjualan Aset SOCI
Penjualan Aset SOCI

Antara ini keputusan bisnis yang buruk, menjual disaat sektor ini sangat rapuh dengan harga minyak yang sudah turun sangat dalam, atau memang no better time to sell that ship. Hasilnya harga saham SOCI langsung anjlok lagi sampai menembus harga terendah pada Desember 2015 dan bottoming di 350 lalu rebound sampai ke 450. Saat ini, harga saham SOCI lagi-lagi berada di kisaran Desember 2015. Maybe, history will repeat itself and next time there will be no bad thing happen again.

Chart SOCI 2
Chart SOCI 2

Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait SOCI adalah:

  1. Penurunan harga minyak tidak terlalu berpengaruh pada pendapatan SOCI, mengapa? Karena kapal-kapal SOCI sebagian besar sudah ada kontrak dengan perusahaan-perusahaan minyak dan hanya sekitar seperempatnya yang mengikuti harga spot sewa. Kapal SOCI adalah kapal mengangkut minyak dan turunannya untuk kilang-kilang di Indonesia, terlepas dari harga minyak yang rendah, kilang-kilang ini tetap membutuhkan supply minyak yang tetap bahkan naik untuk diolah menjadi minyak jadi. Jadi sudah pasti kapal SOCI masih tetap dibutuhkan, mungkin ada penyesuaian harga tetapi tidak banyak. Didukung juga oleh industri galangan kapal SOCI yang semenjak Presiden Jokowi terpilih mendapatkan angin segar. Bandingkan dengan WINS (PBV sekarang 0.27x) yang kapalnya adalah untuk mendukung aktifitas eksplorasi minyak bukan pengangkutan, pada saat harga minyak rendah, perusahaan-perusahaan minyak menahan untuk tidak memulai eksplorasi baru atau menutup area yang kurang menguntungkan. Jika melihat chart harga WINS juga lebih berkorelasi positif dengan harga minyak dunia.
  2. Penjualan kapal dibawah harga buku adalah one time event dan wajar dilakukan karena setelahnya SOCI membeli kapal baru, semoga pada tahun depan SOCI bisa membiayai pembelian kapal tanpa harus menjual kapal dibawah harga buku.
  3. Terlepas dari rugi penjualan kapal, laba SOCI memang turun tahun ini karena penurunan pendapatan dari galangan kapal dan naiknya beban SOCI.

Lalu apakah SOCI worth to buy pada saat ini? Jawabannya: YA. Beberapa alasannya adalah:

  1. Mulai membaiknya kondisi keuangan SOCI, gross margin dan net margin SOCI pada kuarter ketiga tahun ini mulai kembali normal.

    LK SOCI
    LK SOCI
  2. Harga minyak yang mulai stabil di USD 50 dan cenderung naik, meskipun mungkin tidak terlalu berpengaruh ke pendapatan SOCI tetapi sektor shipping mendapatkan sentimen yang bagus.
  3. Track record operasional SOCI yang cukup baik, sejak IPO hanya satu kali kapal SOCI bermasalah (CMIIW) dan tidak berpengaruh ke pendapatan. Juga saat perusahaannya mendapat sentimen negatif karena turunnya laba, manajemen SOCI memilih untuk membagikan laba pertama kali sejak terdaftar di bursa.
  4. PBV SOCI yang sudah relatif rendah yaitu 0.72x.

    PBV SOCI
    PBV SOCI
  5. Jika berdasarkan bandarmology stockbit, SOCI saat ini dalam akumulasi oleh 2 broker yaitu CC dan DX, kapan akumulasi itu terjadi? Sejak 2 Mei 2016, atau pada saat LK kuarter pertama keluar.

Million Rupiah Question, bagaimana valuasi SOCI?

Jika asumsi PBV 0.97x (Mean PBV) maka valuasi SOCI ada di 522 (35% upside) yang juga kisaran harga tertinggi pada tahun ini. Jika mengikuti PBV pada saat IPO yaitu 1.6x maka valuasi SOCI ada di 860 (122% upside). Valuasi lengkapnya di bawah ini.

Valuasi SOCI
Valuasi SOCI

Not really a good valuation, tetapi tidak terlalu buruk.

Artikel lain terkait SOCI:

Prospek IPO Soechi Lines – Teguh Hidayat

Analisa perusahaan saya yang lain: 

Waskita Karya – The Integrated Construction Company

Indah Kiat Pulp & Paper – Promising or Not?

Adira Dinamika Multi Finance: Dividend Play

6 Reasons To Buy Ultrajaya (ULTJ)

Jasa Marga (JSMR): Bargain Stock

Agung Podomoro Land (APLN): Good or Bad?

Asuransi Dayin Mitra (ASDM): Continuously Growing Since 2008

Kunci Investasi Yang Sukses

in Others by

Investor-investor yang hebat, tidak peduli strategi dan gaya investasinya punya satu kesamaan: mereka disiplin dengan strategi investasinya apapun yang terjadi dengan pasar.

Jadi kunci investasi yang sukses bukan hanya mencari strategi yang bagus tetapi juga bisa mengaplikasikannya dengan konsisten.

“The reason [Warren] Buffett is successful is not because he has a magic stock wand, but rather has unbelievable ability to stick to his style. There are numerous investment styles on Wall Street that work — value, momentum, trend, buy and hold — they all work. The challenge is sticking to your style and not selling at the worst time.” – Meb Faber

Karena pasar itu sifatnya cyclical, jadi untuk bisa stick ke satu strategi investasi akan menjadi sangat susah. Biasanya, keinginan untuk merubah strategi kita paling tinggi saat kita merasa takut, greedy atau iri dengan orang lain. Ketika kita liat orang lain strateginya menghasilkan return yang lebih bagus dari kita, kita akan mengalami yang namanya Fear Of Missing Out (FOMO). Kata Jack Bogle, “No matter how greedy or fearful we are, stick with the strategy.”

744942

Jika kita perhatikan beberapa investor sukses memiliki strategi yang berbeda satu sama lain. WB dengan value investing, George Soros dengan “Soros Way”, Carl Icahn dengan Activist Investing, James Chanos dengan short selling, James Simons dengan Quantitative Investing, John Paulson dengan M&A Investing, Jack Bogle dengan Index Investing, Chris Sacca dengan Startup Investing dan lain-lain.

Jadi bagaimana kita menemukan strategi yang cocok? Caranya adalah mengetahui diri kita sendiri, kita tertarik di bidang apa? Kemampuan kita dimana? Apakah kita orang yang sabar? dan lain-lain. Beberapa strategi pada akhirnya akan menghasilkan return yang sangat tinggi tetapi harus melewati periode suram dimana sahamnya tidak bergerak sama sekali atau bahkan jatuh dalam dulu. Ga semua orang bisa melewati periode suram ini.

Investor yang sukses harus menyesuaikan kemampuan dirinya dengan strategi investasinya, bukan hanya kemampuan berfikirnya tetapi juga aspek emosional.

Tapi bukan berarti strategi yang kita pilih tidak butuh penyesuaian, tentu butuh penyesuaian karena dunia investasi itu dinamik. Tetapi penyesuaian yang dimaksut bukan penyesuaian yang tiba-tiba dalam satu malam semua berubah, tetapi yang progresif. WB sendiri menyesuaikan strategi investasinya dari cigar-butt investing (deep value) ke memilih perusahaan dengan moats (competitive advantages) yang kuat.

Sumber:

The Key to Great Investing

Asuransi Dayin Mitra (ASDM): Continuously Growing Since 2008

in Stock Pick by

Ketik melakukan screener dividend, ada satu saham yang menarik perhatian saya yaitu Asuransi Dayin Mitra (ASDM). Mengapa menarik? Karena dividend yieldnya 7.2% tapi payout rationya hanya sekitar 29%. Lalu saya melihat laporan keuangannya lebih dalam lagi, hasilnya? Could be another diamond in the rough.

Sebelum saya lanjutkan, ASDM ini adalah saham yang sangat tidak likuid, volume rata-rata perdagangan selama 100 hari hanya 2300 lembar saham.

Asuransi Dayin Mitra adalah perusahaan asuransi umum dengan 5 segmen usaha utama, asuransi kebakaran, asuransi rangka kapal, asuransi kendaraan, asuransi kecelakaan dan asuransi pengangkutan. Segmen terbesar adalah asuransi kebakaran dan asuransi kecelakaan yang menyumbang 85% dari total premi yang didapat. ASDM berdiri pada tahun 1982 lalu melakukan IPO pada tahun 1989. Pemegang saham utama ASDM adalah PT Equity Development Investment dan PT Arthavest, keduanya juga adalah perusahaan terbuka yang listing di bursa efek. ASDM adalah asuransi penumpang pesawat Air Asia QZ 8501 yang jatuh pada awal tahun 2015 lalu.

Apa yang membuat saya sangat tertarik sampai menulis tentang ASDM, tentu ada saham yang lebih likuid dengan dividend yield lebih tinggi dari ASDM seperti Bank Jatim.

Price to Book Value yang rendah, di sektor asuransi, ASDM menjadi saham dengan PBV terendah kedua (0.71x) setelah Lippo General Insurance (LPGI) (0.62x). Tapi memang sektor asuransi PBV rata-rata hanya 1.25x, jadi dengan PBV 0.71x ASDM tentu masih tergolong wajar.

Satu hal yang membuat saya cukup kagum, dari 2008 sampai 2015, laba dan dividend per share (DPS) ASDM selalu naik setiap tahunnya. Jika EPS yang selalu naik setiap tahun saya kira ada banyak, seperti yang Pak Parahita tulis di daftar The BEI Super Companies. Tapi jika DPS yang terus naik selama 7 tahun berturut-turut dan juga payout rationya turun? Mungkin cuma ASDM. CMIIW

ASDM growth
ASDM

Lalu bagaimana dengan growthnya? Dari 2008 sampai 2015, CAGR laba ASDM sekitar 28%, sedangkan CAGR pendapatan ASDM hanya sekitar 19%, artinya kenaikan pengeluaran ASDM tidak sebesar kenaikan pendapatannya yang tandanya ASDM bisa bertumbuh dengan cukup efisien. Tetapi untuk 3 tahun terakhir, pertumbuhan ASDM melambat, menjadi hanya sekitar 15% untuk laba dan 19% untuk pendapatan. Apakah moat ASDM mulai luntur? Untuk dividend sendiri, CAGRnya adalah 19% dari 2008, sedangkan 3 tahun terakhir hanya sekitar 9%. Net Profit Margin (NPM) ASDM juga sangat baik di sektornya yaitu diatas 20%, meskipun pada tahun ini turun hanya menjadi sekitar 9%.

NPM
NPM

Satu lagi yang buat saya tertarik adalah direktur utama dan ex-direktur utama ASDM yang punya reputasi bagus, Ibu Dewi Mandrawan sebagai dirut saat ini dan Bapak Josef Gunawan Setya sebagai ex-dirut ASDM yang saat ini menjabat sebagai dirut Tokio Marine Indonesia. Tokio Marine sendiri berasal dari Jepang dan merupakan salah satu perusahaan asuransi terbesar di dunia. Ibu Dewi Mandrawan pernah menjadi assosiate director PT Jardine Lloyd Thompson, anak perusahaan Jardine Lloyd Thompson yang merupakan anak perusahaan Jardine Matheson yang juga pemilik dari Astra International (ASII).

Mengingat nilai perusahaan (market cap & enterprise value) ASDM yang tergolong kecil yaitu dibawah Rp 200 Milyar, maka ASDM ini menjadi target akuisisi yang cukup baik bagi bank yang ingin memperkuat atau punya lini bisnis asuransi atau perusahaan asuransi dalam mencari pertumbuhan anorganik. Mengingat dirut saat ini dan ex-dirut merupakan high profile di dunia asuransi, skenario akuisisi bukan hal yang mustahil.

Dari sisi valuasi, untuk saat ini ASDM kurang menarik, karena tahun ini labanya diperkirakan untuk pertama kali sejak 2008 akan turun. Melihat hasil valuasi, saat ini harga ASDM sudah sesuai jadi tidak ada Margin of Safety, tapi jika dividend tetap naik mengingat payout ratio 2015 hanya 29% maka ASDM masih cukup menarik untuk masuk dalam watch list. Berikut hasil valuasi ASDM dengan EPS annualized 2016 sebesar 140 dan EPS 2015 sebesar 230 sebagai perbandingan.

Valuasi ASDM
Valuasi ASDM EPS 2016
Valuasi ASDM EPS 2015
Valuasi ASDM EPS 2015

Analisa perusahaan saya yang lain: 

Waskita Karya – The Integrated Construction Company

Indah Kiat Pulp & Paper – Promising or Not?

Adira Dinamika Multi Finance: Dividend Play

6 Reasons To Buy Ultrajaya (ULTJ)

Jasa Marga (JSMR): Bargain Stock

Agung Podomoro Land (APLN): Good or Bad?

Asuransi Dayin Mitra (ASDM): Continuously Growing Since 2008

 

Mengenal Cigar-Butt Investing

in Others by

Apa itu cigar-butt investing? Simple, membeli saham yang undervalued diliat dari (biasanya) price-to-book value (PBV) ratio. Biasanya saham yang undervalued memiliki PBV dibawah 1x yang artinya harganya saat ini lebih kecil dari book value.Teknik investasi ini dikenalkan oleh Benjamin Graham yang tidak lain basis dari value investing. Warren Buffett (WB) pada awalnya menggunakan teknik ini sampai akhirnya berhenti menggunakannya. Kenapa?

Seringnya, saham dengan PBV dibawah 1 adalah perusahaan yang kecil yang sedang bermasalah, bisa dari industrinya yang sudah tidak atraktif lagi, atau produk atau manajemennya bermasalah. Masalah yang dihadapi ini terefleksi ke harga sahamnya sampai dibawah harga jika perusahaan itu dilikuidasi (dibawah book value), jadi jika jelek-jeleknya perusahaan bangkrut, investornya masih bisa mendapatkan sedikit profit. Strategi ini bekerja sangat baik untuk WB sampai pada titik WB membeli Berkshire. Saat itu dia menyadari bahwa lebih baik membeli perusahaan yang sangat bagus diharga yang normal daripada membeli perusahaan biasa saja diharga yang sangat murah.

Menurut WB strategi ini lebih cocok untuk investor retail yang kecil, tetapi semakin besar dana yang dikelola maka akan semakin sulit untuk mengikuti teknik ini.

quote-it-s-far-better-to-buy-a-wonderful-company-at-a-fair-price-than-a-fair-company-at-a-warren-buffett-4-6-0661

Di bursa Indonesia sendiri, jika ingin membeli saham hanya berdasarkan PBV atau PER maka akan sangat mudah, saat ini ada sekitar 80 saham dengan PBV di bawah 0.5x dan 176 saham dengan PBV di bawah 1x, beberapa diantaranya Bank CIMB Niaga (BNGA), Bank Panin (PNBN), Krakatau Steel (KRAS), Indika Energi (INDY), Medco Energi (MEDC), Agung Podomoro (APLN) dan Indah Karya Pulp & Paper (INKP). (baca: Indah Kiat Pulp & Paper – Promising or Not? dan Agung Podomoro Land (APLN): Good or Bad?)

Saham dengan PBV di bawah 1x
Saham dengan PBV di bawah 1x

Dilihat dari PER juga saat ini ada 82 perusahaan dengan PER dibawah 10x dan 140 perusahaan dengan PER dibawah 15x termasuk diantaranya Bank BRI (BBRI), Bank BNI (BBNI) dan Perusahaan Gas Negara (PGAS).

Perlu diingat jika berinvestasi menggunakan teknik cigar-butt ini harap berhati-hati dengan value trap. (baca: Mengindentifikasi Value Trap)

 

Beberapa artikel terkait Cigar-Butt Investing:

Should You Invest in Cigar Butt Stocks

Ben Graham and Warren Buffett On Cigar Butt Investing

Agung Podomoro Land (APLN): Good or Bad?

in Stock Pick by

Jika dibandingkan secara market cap dan aset, APLN ini hanya perusahaan properti kelas menengah jika dibandingkan dengan perusahaan properti terkenal lainnya seperti Bumi Serpong Damai (BSDE), Ciputra Development (CTRA), Lippo Karawaci (LPKR) dan lain-lain. Tapi seperti yang saya tulis disini, membuat saya lebih tertarik kepada APLN.

Salah satu yang cukup membuat saya tertarik adalah perbandingan net income dan market cap APLN dari 2010 sampai 2015. Pada 2010 net income APLN adalah Rp 283 Milyar dan ini terus naik sampai 2015 dengan growth rate 185.87% atau 23.38% per tahun. Sedangkan market cap APLN sendiri stagnan cenderung turun dari 2010. Normalnya pertumbuhan net income berkorelasi positif terhadap pertumbuhan market cap, kok APLN engga? Mari kita liat rasio keuangan lainnya.

Net income & market cap APLN 2010-2015
Net income & market cap APLN 2010-2015

Pada saat perusahaan property lain harganya naik cukup tinggi periode 2010-2013, APLN telat start, karena baru IPO pada akhir 2010. Start-nya juga sangat jelek, harga IPO di 470 sempat naik sampai 500 pada hari yang sama setelahnya turun hingga 260 dan sideways. Sedangkan dari 2011-2013 beberapa perusahan property seperti CTRA naik 393%, PWON +100% dan LPKR +172%, sedangkan APLN sendiri hanya naik 25%, itupun setelah sideways 2 tahun sejak IPO-nya. Apa yang salah ya sama APLN ini?

APLN Financial Condition

Jika melihat dari beberapa rasio seperti DER, ICR dan current ratio, maka APLN bisa dikategorikan kurang baik dengan DER yang relatif tinggi juga current ratio dan ICR yang rendah.

DER Property
DER Property
Interest Coverage Ratio Property
Interest Coverage Ratio Property
Current Ratio Property
Current Ratio Property

Sedangkan jika melihat gross margin dan net profit margin, APLN juga tidak terlalu istimewa.

Gross Profit Margin Property
Gross Profit Margin Property
Net Profit Margin Property
Net Profit Margin Property

Melihat beberapa rasio keuangan diatas, saya mengkategorikan APLN ini sebagai perusahaan yang biasa saja tidak terlalu jelek tapi ga bagus-bagus banget juga. Salah satu yang cukup menarik adalah PER APLN karena menjadi yang paling kecil diantara perusahaan property lain.

PER Property
PER Property

APLN Story

Hal lain lagi yang buat saya menarik dari APLN ini adalah portofolio aset reccuring income yang cukup baik, bisa dilihat dari breakdown RNAV-nya, sekitar 41% RNAV dari retail mall dan 20% dari hotel, hampir mirip dengan PWON.

Breakdown RNAV Property
Breakdown RNAV Property

Per 2015, RNAV per share APLN adalah 524, dengan harga 300 maka discount to RNAV hanya sekitar 43%. Sedangkan historically, discount to RNAV APLN ada di sekitar 60% dan discount to RNAV terendah untuk perusahaan property di Indonesia sekitar 20-25%. Jika dilihat dari harga sekarang, maka peluang untuk naik sudah sangat terbatas.

RNAV Property
RNAV Property
APLN Discount to RNAV
APLN Discount to RNAV

Tetapi, RNAV APLN sendiri bisa naik jika proyek-proyeknya sudah selesai ditambah jika pluit city (reklamasi pulau G) dilanjutkan. Juga portofolio property APLN yang cukup baik, beberapa diantaranya Mall Central Park, Sency, Kuningan City, dan Hotel Pullman.

Rincian RNAV APLN
Rincian RNAV APLN 1
Rincian RNAV APLN
Rincian RNAV APLN 2

Marketing sales APLN juga diprediksi belum membaik sampai tahun depan, yang berarti revenue untuk 2017 keatas bisa terganggu.

Marketing Sales APLN
Marketing Sales APLN

Lalu bagaimana dengan kasus reklamasi untuk Pluit City (Pulau G)? Bisa langsung dilihat dari artikel yang ditulis Pak Irfanda dan Pak Teguh Hidayat dibawah.

Selain dengan berlanjutnya proyek Pluit City, cara lain APLN untuk “unlock value”  adalah dengan sukses membangun kawasan industri. Cara lainnya adalah, kesuksesan untuk menyebar portofolio property ke luar Jawa.

Ada satu lagi cara untuk APLN “unlock value” yaitu melalu REIT atau Dana Investasi Real Estate (DIRE). Tapi mungkin tidak untuk waktu yang dekat karena beberapa alasan seperti dijabarkan di bawah ini. Ringkasannya: masih banyaknya pajak untuk mentransfer aset menjadi DIRE (pajak transfer aset, VAT, income tax), meskipun pajak dividend ditiadakan tetapi pemerintah malah menetapkan pajak atas capital gain. Kedua, yield yang ditawarkan DIRE harus lebih atraktif, jika yield dari obligasi pemerintah saja sekitar 8.5-9% maka yield yang ditawarkan DIRE harus lebih tinggi dari itu, jika melihat di Singapura, maka selisihnya sekitar 3%, jadi yield yang ditawarkan DIRE di Indonesia harus sekitar 11.5-12%. Sedangkan, jika perusahaan property ingin menerbitkan obligasi atau meminjam uang di bank, mereka bisa mendapat rate yang lebih murah atau melepas asetnya ke DIRE di Singapura. APLN sendiri pada Agustus kemaren berencana untuk melepas aset hotel pullman dan sofitel melalui skema DIRE, pada artikel tidak dituliskan DIRE dimana, dugaan saya adalah di Singapura. (APLN Bakal Jual Pullman dan Sofitel)

Why REIT won't happen soon in Indonesia?
Why REIT won’t happen soon in Indonesia?

APLN Value

Lalu bagaimana valuasi APLN sendiri? Jika menggunakan RNAV per 2015, valuasi APLN adalah Rp 524, dengan asumsi discount to RNAV 30% maka fair value ada di sekitar Rp 366. Jika menggunakan asumsi PER 10x dan 15x dengan EPS TTM saat ini, maka fair value APLN ada di sekitar Rp 373 dan Rp 560. Menggunakan metode Ben Graham dengan sedikit modifikasi, menghasilkan valuasi yang sangat tinggi sekitar Rp 1983. Sedangkan, jika menggunakan metode average ROE dan EPS growth, maka valuasi APLN masing-masing adalah Rp 563 dan Rp 1036.

APLN Negative List

Beberapa resiko dan hal negatif terkait APLN adalah sebagai berikut

  • Kesulitan mengakuisisi lahan untuk project baru terutama di Jakarta
  • Naiknya suku bunga dan nilai tukar Rupiah
  • Terkena masalah hukum terkait proyeknya, gugatan pemilik atau pemerintah

APLN Summary

Melihat dari rasio solvabilitas dan profitabilitas, APLN termasuk perusahaan yang biasa saja cenderung kurang bagus dengan DER yang relatif tinggi di sektornya. Tapi perlu diketahui, sejak IPO, APLN belum pernah melakukan right issue, right issue bisa dilakukan untuk mengurangi beban hutang bila dibutuhkan. Melihat portofolio property dan future development, APLN ini cukup menarik. Melihat dari sisi valuasi juga, APLN saat ini relatif murah. Jadi apakah APLN good or bad?

Disclaimer: Penulis mempunyai saham APLN

Beberapa artikel terkait APLN:
Keuangan APLN, sehatkah? – Irfanda

Berapa Kerugian APLN bila Reklamasi Pluit City batal? – Irfanda

Agung Podomoro Land, dan Kasus Reklamasi – Teguh Hidayat

Agung Podomoro, the Other Side – Teguh Hidayat

Prospek IPO Agung Podomoro

 

Analisa perusahaan saya yang lain: 

Waskita Karya – The Integrated Construction Company

Indah Kiat Pulp & Paper – Promising or Not?

Adira Dinamika Multi Finance: Dividend Play

6 Reasons To Buy Ultrajaya (ULTJ)

Jasa Marga (JSMR): Bargain Stock

Agung Podomoro Land (APLN): Good or Bad?

Asuransi Dayin Mitra (ASDM): Continuously Growing Since 2008

Update 9M 2016

Per 9M 2016, belum ada perubahan berarti dari rasio-rasio keuangan APLN, berita bagusnya net profit naik 14% yoy dari Rp 560 milyar menjadi Rp 640 milyar, tetapi beban bunga sangat besar: Rp 505 milyar atau sama dengan 25% laba kotor atau 79% laba bersih.

Berikut valuasi terbaru APLN per 30 Oktober 2016

Valuasi APLN
Valuasi APLN
1 2 3 4 5 9
Go to Top