Talk about finance, investing and everything in between

Author

Hilmawan Kusumajaya - page 2

Hilmawan Kusumajaya has 49 articles published.

Return on Asset in Indonesia

in All About IHSG by

Return on Asset (ROA), mungkin sudah banyak yang tahu apa itu ROA dan bagaimana cara menghitungnya. Disini saya mau coba berbagi fakta terkait ROA dalam bursa saham kita.

Ada 344 perusahaan dengan aset dibawah Rp 10 T, dari 344 ini ada 48 perusahaan yang punya ROA diatas 10% dan hanya 25 dengan ROA diatas 15%, atau dengan kata lain hanya 13% dan 7% dari 344 perusahaan. Sementara itu ada 123 perusahaan dengan aset diatas Rp 10 T dan hanya 16 perusahaan yang punya ROA diatas 10% dan 6 perusahaan dengan ROA diatas 15% atau 13% dan 4% dari 123 perusahaan.

Secara keseluruhan, dari 467 perusahaan yang terdaftar di IDX (stockbit database) hanya ada 64 perusahaan (13%) dengan ROA diatas 10% dan 27 perusahaan dengan ROA diatas 15%. Dari 64 perusahaan ini, ada 44 perusahaan atau 68% yang menghasilkan return positif selama setahun terakhir. Dengan kata lain, memiliki ROA tinggi belum tentu menghasilkan return yang selalu positif.

Dari 4 saham dengan aset terbesar (di atas Rp 600 T) di IDX, keempatnya adalah saham perbankan, yaitu BRI, Bank Mandiri, BCA dan BNI. Dari keempat saham ini, BBCA mempunyai ROA tertinggi yaitu 3%.

Aset > 600 T

Lalu ada 12 perusahaan dengan aset diatas Rp 90 T, kebanyakan juga perbankan, hanya 3 yang bukan. Dari 12 perusahaan ini, ketiga perusahaan non-bank mencatatkan ROA yang lebih tinggi dan yang paling tinggi adalah TLKM yaitu 10.52%.

Aset > 90 T

Selanjutnya ada 20 perusahaan dengan aset diatas Rp 40 T, dan yang punya ROA paling tinggi adalah HMSP diikuti oleh GGRM dan SMGR.

Aset > 40 T (1)
Aset > 40 T (2)

Fun fact: 36 perusahaan ini memiliki 70% atau sekitar Rp 6374 T dari semua aset perusahaan di IDX yang sebesar Rp 9009 T (per Q3 2016).

Berdasarkan hasil ROA, perusahaan-perusahaan “SUPER” di IDX adalah BBRI dan BBCA, BBRI dengan aset Rp 1000 T masih mampu mencatatkan ROA diatas 2.5% dan BCA dengan aset diatas Rp 600 T bisa mencatatkan ROA 3%, tertinggi dari semua bank yang ada di IDX. Selanjutnya ada TLKM dan HMSP, TLKM karena dengan aset diatas Rp 100 T mampu mencatatkan ROA diatas 10% dan HMSP adalah satu dari beberapa perusahaan FMCG dengan return diatas 20%. Diluar 36 perusahaan dengan aset terbesar itu ada UNVR, MLBI, LPPF, SCMA dan SMSM. Kelima perusahaan tersebut mampu mencatatkan ROA konsisten diatas 20%.

Return on Invested Capital in Indonesia

in All About IHSG by

Setelah post tentang Return on Asset (ROA) in Indonesia, sekarang saya mau berbagi terkait Return on Invested Capital (ROIC) in Indonesia. Sebelumnya yang belum tau, ROIC adalah rasio untuk mengukur seberapa efisien perusahaan menggunakan modal yang dimiliki untuk digunakan pada investasi yang menguntungkan. Ada berbagai cara untuk menghitung ROIC, tapi yang digunakan Stockbit adalah NOPAT dibagi total debt + total equity (total capital).

Ada 379 perusahaan dengan market cap dibawah Rp 10 T, dari 379 ini ada 88 perusahaan yang punya ROIC diatas 10% dan ada 40 perusahaan dengan ROA diatas 15%. Sementara itu ada 88 perusahaan dengan market cap diatas Rp 10 T dan ada 38 perusahaan yang punya ROA diatas 10% dan 27 perusahaan dengan ROA diatas 15%. Jumlah ini lebih baik dari jika dilihat dari ROA dan total aset.

Secara keseluruhan, dari 467 perusahaan yang terdaftar di IDX (stockbit database) hanya ada 126 perusahaan (27%) dengan ROA diatas 10% dan 67 perusahaan (14%) dengan ROA diatas 15%. Dari 126 perusahaan ini, ada 82 perusahaan atau 65% yang menghasilkan return positif selama setahun terakhir. Dengan kata lain, memiliki ROIC tinggi belum tentu menghasilkan return yang selalu positif.

Dari 11 saham dengan market cap terbesar (> Rp 100 T) hanya ada 2 dengan ROIC di bawah 10%.

ROIC > 100T

Sedangkan dari 14 saham dengan market cap antara Rp 40-100 T ada 5 saham dengan ROIC dibawah 10%.

ROIC 40-100T

Melihat statistik di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perusahaan yang sudah mature (market cap diatas Rp 40 T) mampu mengelola modal yang ditanamkannya dengan cukup baik.

Fun Fact: Dari 10 perusahaan dengan dengan ROIC tertinggi, hanya 4 yang memiliki total aset di atas Rp 10 T dan kesepuluh perusahaan ini return harga sahamnya selama 3 tahun dan 1 tahun terakhir ini kurang mengesankan. Hanya ada 3 perusahaan dengan return di atas 10% selama 1 tahun terakhir dan 4 perusahaan dalam 3 tahun terakhir.

ROIC tertinggi di dalam bursa Indonesia adalah Matahari Department Store (LPPF), jika ingin mengetahui analisanya silahkan klik link berikut ini: Matahari Department Store (LPPF): The Best Company Listed in IDX?

Matahari Department Store (LPPF): The Best Company Listed in IDX

in Stock Pick by

Awalnya saya lagi membaca sebuah buku berjudul “Valuation: Measuring and Managing The Value of Companies“, lalu ada chapter yang membahas Return on Invested Capital (ROIC). Karena saya penasaran lalu saya membuka Stockbit screener untuk mencari tahu saham apa yang punya ROIC terbesar. Hasilnya, ada 3 yang menarik perhatian, Matahari Department Store (LPPF), Multi Bintang Indonesia (MLBI) dan Unilever Indonesia (UNVR). Tebak berapa ROIC LPPF? 164.4%, beda dari 2 perusahaan dengan ROIC tertinggi, MLBI dan UNVR yang merupakan perusahaan yang memproduksi produknya sendiri, LPPF ini hanya punya toko. Setelah saya lihat-lihat, ternyata saat ini LPPF cukup potensial untuk masuk daftar belanjaan. Berikut akan saya coba bagikan beberapa hal terkait LPPF yang membuat saya tertarik.

The Good

  1. ROIC yang sangat tinggi: 164.4%. Sebelumnya yang belum tau ROIC adalah rasio untuk mengukur seberapa efisien perusahaan menggunakan modal yang dimiliki untuk digunakan pada investasi yang menguntungkan. Ada berbagai cara untuk menghitung ROIC, tapi yang digunakan Stockbit adalah NOPAT/total debt + total equity (total capital)Kok bisa sih ROIC LPPF tinggi banget? ROIC tinggi bisa karena 3 hal, NOPAT yang tinggi atau total capital yang rendah atau kombinasi keduanya. Dalam kasus LPPF adalah kombinasi keduanya, net income LPPF adalah yang terbesar di sektor retail dan juga salah satu dengan capital terendah. Sebagai perbandingan adalah Ace Hardware (ACES), untuk ACES menghasilkan 671 M mereka perlu sekitar capital sekitar 2.9 T, sedangkan LPPF hanya perlu 1.47 T untuk menghasilkan 2 T.

    Komparasi Retail (1) – Book Value mewakili Equity
  2. Kok bisa sih LPPF perlu capital yang sangat rendah tapi bisa memberikan hasil yang tinggi? Jawabannya ada 2, pertama, LPPF hanya modal “rak, lemari dan gantungan baju”, untuk tempat seluruhnya adalah sewa dan saya pernah baca anchor tenant seperti LPPF atau Matahari Putra Prima/Hypermart (MPPA) dan kawan-kawan biasanya mendapat sewa yang lebih murah. Ditambah juga grup Lippo yang juga memiliki dan mengoperasikan beberapa mall di Indonesia, ada kemungkinan LPPF mendapat perlakuan yang lebih favorable dari tenant lain. Kedua, LPPF hampir tidak punya inventory, sekitar 66% produk yang dijual di LPPF dilakukan dengan sistem consigment (konsinyasi), yang artinya pihak kedua memberikan komisi yang dipotong dari harga jual produk mereka. Karena sistem consigment ini jadi LPPF tidak perlu memproduksi barang untuk mengisi tokonya, alhasil mereka tidak perlu capital yang besar untuk stok barang. Dalam soal inventori barang bisa kita bandingkan dengan ACES sebagai perusahaan retail terbaik kedua, ACES lebih dari 90% penjualannya adalah dari produk mereka sendiri atau direct purchasing (membeli putus produk dari pihak kedua).  Sebagai perbandingan, revenue TTM ACES adalah 4.8 T dan revenue TTM LPPF adalah 9.7 T, inventory ACES adalah 1.6 T atau 33% dari revenue, sedangkan inventory LPPF adalah 940 M, atau 10% dari revenue. Melihat dari LK LPPF, untuk consigment ini mereka meminta sekitar 30% dari harga jual produk consigment.

    Consignment LPPF
  3. Pertumbuhannya yang bagus, pada 2010 revenue LPPF adalah 4,092 M dan pada 2015 adalah 9,007 M yang artinya LPPF tumbuh 2x lipat sejak 2010 atau CAGR sebesar 17% dalam 5 tahun terakhir. Pertumbuhan laba juga bagus, pada 2010, laba bersih LPPF adalah 625 M, dan 2015 laba bersihnya adalah 1,781 M atau tumbuh hampir 3x lipat dalam 5 tahun (CAGR 23%).
  4. Margin yang baik, Gross Profit Margin (GPM) dan Operating Profit Margin (OPM) yang terjaga di atas 60% dan 26% setiap tahunnya, serta penghapusan utang bank sehingga LPPF tidak ada beban utang lagi.
  5. Saat ini, LPPF relatif murah jika dilihat dari Price Earning Ratio (PER) karena PER LPPF saat ini berada pada level -2 SD selama 3 tahun terakhir.

    PER
  6. Matahari Mall, LPPF punya kepemilikan efektif 10% dan mungkin akan bertambah, ini masih dalam tahap pembangunan, jadi masih belum bisa dirasakan hasilnya, tetapi melihat kemampuan dan sinergi grup Lippo dalam membangun usaha besar kemungkinan Matahari Mall ini akan berhasil.
  7. Ada 3 grup department store besar di Indonesia yang terdaftar di bursa, Matahari (LPPF), Ramayana (RALS) dan Mitra Adiperkasa – Sogo, Debenhams, Galeries Lafayette, Lotus, Seibu (MAPI). Dari ketiga ini, LPPF mempunyai margin operasi yang paling baik, per 2016 margin operasi LPPF adalah 26.8%, RALS dan MAPI (khusus department store) 17.58% dan 0.6%.
  8. PER LPPF relatif rendah (no 3, exclude MPPA) dari 7 retailer dengan penjualan terbesar + RALS.

    PER Retailer
  9. Perusahaan retail terdaftar di bursa paling menguntungkan di Indonesia. Retailer dengan penjualan paling tinggi adalah Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) dengan penjualan per 2016 yaitu Rp 56 T, tetapi net income hanya Rp 602 M. Sedangkan LPPF, penjualannya per 2016 adalah Rp 9.7 T atau tertinggi ke-7 diantara perusahaan retail, tetapi net incomenya adalah yang tertinggi dengan Rp 2 T, no 2? AMRT. :p

    Net income retailer

Special Attention List

Selain 5 hal diatas yang membuat saya tertarik, ada juga beberapa hal yang menjadi catatan.

  1. Price to Book Value (PBV) yang sangat tinggi yaitu 30x dan PER yang tidak tergolong rendah jika dibandingkan dengan seluruh perusahaan yang ada di bursa. Sebanding dengan ROIC yang tinggi, drawback dari memiliki book value yang rendah adalah PBV yang tinggi. Tapi, jika kita membandingkan 3 perusahaan dengan ROIC tertinggi yang saya sebutkan diatas, LPPF, MLBI dan UNVR, PBV dan PER LPPF adalah yang terendah. Jadi bisa dikatakan diantara perusahaan terbaik, LPPF adalah yang paling murah.

    ROIC PER PBV Top 3
  2. Dari 2010, penjualan LPPF pada kuarter 3 setiap tahunnya adalah yang terbaik, tapi pada 2016 kemaren, kuarter 3 bukan kuarter terbaik lagi karena kuarter 2 jauh lebih baik dan hal ini mungkin penyebab harga saham LPPF turun sampai 26% sejak akhir Oktober (saat LK Q3 2016 keluar). Sebenarnya hal ini harusnya hal yang biasa saja, karena seperti yang kita tau, bulan Ramadhan menjadi saat dimana konsumsi khususnya pakaian mencapai puncak setiap tahunnya dan dari 2010 lebaran selalu jatuh dalam kuarter 3. Pada 2016 sendiri, lebaran jatuh pada tanggal 6 Juli, yang artinya belanja baju baru dilakukan sebagian besar pada bulan Juni yang masuk kuarter 2.

Valuation

Lalu berapakah valuasi pantas LPPF? Dengan kondisi keuangan sampai Q3 2016 dan harga saat ini di 15,325, LPPF masuk kategori saham yang cukup undervalued.

Valuasi LPPF

The Lippo’s Play

Tapi seperti banyak saham perusahaan yang bagus dan undervalued, percuma kalo tidak ada katalisnya. Nah menurut saya hal ini bisa jadi katalis besar LPPF (ini murni pendapat saya, lebih kearah berandai-andai). Minggu kemaren keluar berita bahwa Multipolar (MLPL) yang merupakan bagian dari grup Lippo ingin menjual kepemilikannya di MPPA. Katanya valuasi MPPA bisa mencapai  $ 1 Milyar, atau Rp 13.3 T, dengan kepemilikan 50%, jika MPPA dilepas semua oleh MLPL maka MLPL akan mendapat sekitar Rp 6 T. Lalu buat apa 6 T ini? Keluarga Lippo sepertinya ga perlu 6 T tunai. Tebakan saya, untuk menambah kepemilikan di LPPF. Saat ini LPPF seperti crown jewel dari grup Lippo, dengan market cap dan net income terbesar diantara grup Lippo lain yang ada di bursa. Status LPPF sebagai crown jewel juga ditunjukan dengan John Riady yang menjadi komisaris dalam LPPF, hanya LPPF dari grup Lippo lain yang ada di bursa yang masih ada keluarga Riady dalam jajaran BoC (cmiiw).

When to Buy?

Karena seringnya saya mendapat pertanyaan kapan harus beli saham X, atau kapan saham X akan naik, saya akan coba membagi seasonality chart dari Stockbit, silahkan dimanfaatkan untuk keputusan kapan beli dan menjawab pertanyaan kapan naik. Karena LPPF baru aktif pada Maret 2013 saat ditawarkan saham Asia Color Company ke publik, maka akan saya lihat dari 2013. Jika kita mengabaikan bulan Januari-Maret 2013, maka bulan Februari adalah bulan terbaik LPPF, dengan rata-rata return sebesar 17%.

Seasonality Chart LPPF

Disclaimer: Penulis memiliki saham LPPF.

Additional Reading:

LPPF – Sinarmas, NH Korindo, Mirae, Samuel

LPPF: Matahari bersinar terang – LongTerm Investment

 

Analisa perusahaan saya yang lain: 

Waskita Karya – The Integrated Construction Company

Indah Kiat Pulp & Paper – Promising or Not?

Adira Dinamika Multi Finance: Dividend Play

6 Reasons To Buy Ultrajaya (ULTJ)

Jasa Marga (JSMR): Bargain Stock

Agung Podomoro Land (APLN): Good or Bad?

Asuransi Dayin Mitra (ASDM): Continuously Growing Since 2008

Soechi Lines (SOCI): Calm Ocean Ahead

Matahari Department Store (LPPF): The Best Company Listed in IDX

Performa Stockpick 2016

in Stock Pick by

Ada 7 analisa saham yang saya buat disini Stock Pick + 1 pada Desember 2015, bagaimana performanya sampai akhir 2016 kemaren?

Secara rata-rata, stock pick saya pada 2016 kemaren menghasilkan return sebesar 14.91%

Performa Stock Pick 2016

Silahkan klik pada kode saham untuk melihat analisa detail dan update analisa di awal tahun 2017.

WSKT performa saham dan keuangannya sangat baik pada 2016, harga sahamnya sempat menyentuh titik tertinggi di

INKP tidak banyak berubah dari INKP sejak analisa saya pada Maret 2016.

ADMF mulai turunnya suku bunga BI dan membaiknya keuangan dengan laba bersih yang naik 2x lipat lebih menjadi motor penggerak harga saham ADMF.

ULTJ masih terus tumbuh jika melihat LK per kuarter ketiga 2016.

JSMR tidak banyak berubah dari JSMR sejak analisa saya pada Oktober 2016. JSMR sendiri sudah melaksanakan right issue pada bulan Desember 2016. JSMR juga masih terus mencari alternatif pendanaan untuk mencapai target 2000 km pada 2019 (berita).

APLN tidak banyak berubah dari posisi keuangan APLN sejak analisa saya pada Oktober 2016. Menurunnya harga saham juga berarti diskon ke RNAV-nya semakin tinggi.

ASDM tidak banyak berubah dari INKP sejak analisa saya pada November 2016.

SOCI naiknya harga minyak dunia masih belum memberikan sentimen positif ke SOCI dan saham-saham kapal yang berkaitan dengan pengangkutan/produksi minyak, hanya LEAD yang bergerak positif.

Semoga pilihan saham saya bisa membantu teman-teman dalam proses investasinya, semoga 2017 menjadi tahun yang baik bagi kita semua. :peace

Melihat Saham Dengan Return Terbesar 10 Tahun Terakhir

in Others by

Coba tebak saham dengan return terbesar dalam 10 tahun terakhir ini apa? Apakah HM Sampoerna (HMSP)? Apakah Unilever (UNVR)? Atau Bank BRI (BBRI)? Salah. Jawabannya adalah Kresna Graha Investama (KREN). Berapa emang returnnya dalam 10 tahun terakhir ini? 7805%. WOW! Jika anda punya 1 juta rupiah saham KREN 10 tahun yang lalu, saat ini nilainya sudah 79 juta rupiah.

Ada berapa saham yang mencetak return lebih dari 1000% dalam 10 tahun terakhir? Jawabannya ada 45 saham, dan ada 71 saham yang mencetak return diatas 500% dalam 10 tahun terakhir. Jika dibandingkan dengan jumlah saham dalam IHSG maka perbandingannya adalah 9.1% dan 14.4%, atau dengan kata lain, hanya ada sekitar 10 dari 100 saham yang bisa mencetak return diatas 500% dalam 10 tahun terakhir.

Jadi apa-apa saja saham tersebut? Berikut daftarnya

Saham dengan return >1000%

 

Saham dengan return >500%

Beberapa yang bisa kita perhatikan adalah:

  1. Hanya ada sekitar 13 saham dengan market cap Rp 10 trilyun dalam 45 saham dengan return >1000% dan hanya 7 saham dalam 26 saham dengan return >500%.
  2. Tidak ada saham perbankan dalam return >1000% dan hanya 3 bank dalam return >500% yaitu Bank Mayapada (MAYA), Bank Woori Saudara (SDRA) dan Bank BCA (BBCA). Bank BRI (BBRI) hanya mencetak return 364% dan Bank Mandiri (BMRI) hanya 294%.
  3. Hanya ada 20 saham dengan Return On Invested Capital (ROIC) diatas 15% yang masuk dalam dua daftar diatas. Sedangkan saat ini, keseluruhan ada 55 saham dengan ROIC diatas 15%.
  4. Ada 34 saham dengan Return On Equity (ROE) diatas 15% yang masuk dalam dua daftar diatas. Sedangkan saat ini, keseluruhan ada 106 saham dengan ROE diatas 15%.

Kesimpulannya, peluang untuk kita memilih ke-71 saham diatas relatif kecil, hanya 1:10 dan menjadi lebih kecil lagi jika kita hanya melihat saham-saham perusahaan yang “genah” (jelas).

 

Catatan: Ada 189 saham dengan data yang tidak tersedia, jadi mungkin ada lagi saham yang masuk daftar diatas. Data diatas menggunakan mata uang USD (million USD), jadi ada selisih nilai tukar.

IHSG Irrational Exuberance Edition 2016

in All About IHSG by

“Irrational exuberance is unsustainable investor enthusiasm that drives asset prices up to levels that aren’t supported by fundamentals.”

Minggu ini adalah minggu perdagangan terakhir untuk tahun ini. Mari kita lihat saham apa saja yang mencetak return tertinggi untuk tahun ini. Ada 7 saham yang mencetak return lebih dari 500% (+TPIA karena nyaris 500%). WAW! Jika kita membuat portofolio dengan awal Rp 10 juta dengan porsi sesuai market cap tiap saham, maka pada saat ini portofolio kita akan senilai Rp 94 juta, NAIK 850%!!!

IHSG 2016 Highest Return

Biasanya, kenaikan spektakuler seperti saham-saham diatas dialami oleh saham third liner dengan market cap dibawah Rp 1 Trilyun dan dengan volume transaksi sangat rendah. Sehingga kita sangat susah untuk membeli saham tersebut. Tetapi tidak dengan tahun ini, kedelapan saham diatas semuanya memiliki market cap diatas Rp 1 Trilyun dan volume rata-rata transaksi yang tinggi. Rata-rata kedelapan saham tersebut memiliki volume harian diatas 1 juta lembar perhari. Sebagai perbandingan, volume rata-rata UNVR sekitar 2 juta lembar perhari dan GGRM sekitar 1 juta lembar per hari. Jadi kita sangat mungkin bisa membeli dan menyusun portofolio dengan kedelapan saham tersebut.

Volume

Saya sendiri ketika melihat hasil kedelapan saham ini tentu berfikir, andai punya mesin waktu doraemon untuk kembali ke awal tahun :((

Tapi, kenapa artikel ini saya beri judul irrational exuberance? Karena fundamental kedelapan saham ini tidak terlalu mendukung kenaikannya. Dari kedelapan saham tersebut hanya PPRO yang mencatatkan kenaikan revenue yang baik yaitu 55% YTD yoy. Jika dilihat dari net income growth memang kebanyakan cukup bagus, tetapi kenaikan itu hanya terjadi pada tahun ini, bukan kenaikan yang sustain dari tahun-tahun sebelumnya.

Jika melihat PE ratio kedelapan saham ini pada akhir 2015, hanya SMBR dan PPRO yang mungkin bisa dibilang layak beli, INAF dan BRPT sudah terlalu tinggi dan sisanya PE ratio negatif, yang artinya mencatatkan net loss.

PE ratio 2015

Lalu kita lihat PE ratio per kemaren, pada saat ini hanya BRPT yang bisa dibilang layak beli. Jadi, jika kita menganut paham value investing, kita memang tidak mungkin melihat kedelapan saham ini, karena tidak sesuai dengan kriteria kita. Penyesalan itu wajar, tapi saya percaya, kunci keberhasilan adalah konsistensi dan disiplin. (Baca: Kunci Investasi Yang Sukses) Saya juga percaya pasar saham itu sangat irrational, jadi mungkin saja 2017 akan ada saham-saham seperti delapan saham diatas. Mungkin saham-saham komoditas atau saham properti.

PE ratio 2016

1 2 3 4 9
Go to Top